Wednesday, March 28, 2007

casestudy: melayani di dunia kita...

Rabu, 28 Maret 2007
Lukas 22:24-30
Judul: Melayani bukan dilayani Para murid melihat kemesiasan Yesus berdasarkan sudut pandang materialisme. Mereka mengira Yesus akan menjadi Raja. Tak heran bila mereka berambisi untuk diikutsertakan dalam pemerintahan-Nya kelak. Itu menyebabkan mereka sering memperdebatkan siapakah yang terbesar dari antara mereka. Bahkan dalam perjamuan Paskah, saat Yesus mempersiapkan mereka untuk menerima fakta kematian-Nya, mereka malah bertengkar soal kedudukan (24).
Menanggapi pertengkaran mereka, Yesus membandingkan kepemimpinan dunia dengan kepemimpinan rohani. Pemimpin dunia mengandalkan kuasa yang ada padanya untuk memerintah orang lain (25). Bahkan mereka cenderung mendominasi dan menjadi diktator. Tetapi murid Kristus harus berbeda! Murid Kristus tidak boleh mengeksploitasi kedudukan. Murid Kristus harus menjalankan tugas bukan sebagai orang yang harus dilayani namun sebagai orang yang melayani (26). Kepemimpinan bukanlah kesempatan untuk menerima hak istimewa tetapi sebuah tanggung jawab pelayanan yang harus dilakukan dengan penuh kerendahan hati di hadapan Allah. Yesus sendiri telah memberi teladan hidup-Nya. Ia ada di tengah-tengah mereka sebagai pelayan (27) sampai Ia menyerahkan hidupnya untuk melayani kebutuhan hakiki manusia, yaitu keselamatan kekal. Lewat perkataan itu, Yesus seolah ingin mengatakan bahwa kebesaran seorang bukan dilihat dari kedudukan atau kuasa yang dimilikinya, tetapi dari sikap hidup dan pelayanannya kepada orang lain.
Kini pun pertengkaran untuk menjadi yang terbesar masih sering terulang. Kedudukan dan jabatan menjadi fokus orang-orang yang menyebut diri pelayan Tuhan. Ketidakmengertian terhadap prinsip pelayanan Tuhan bisa terjadi karena motif yang salah dalam mengikut Dia. Salib Kristus bukan saja sumber keselamatan bagi kita tetapi juga pola hidup dan prinsip pelayanan yang membuat kita merendahkan diri dan menyangkal diri.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/03/28/

Thursday, March 22, 2007

[sate]menantikan kedatangan Kristus

Jumat, 23 Maret 2007
Lukas 21:25-33
Judul: Menantikan kedatangan Kristus Ucapan nubuat Tuhan Yesus meliputi kondisi Yerusalem tahun 70-an ke kondisi saat kedatangan-Nya kedua kali. Akan terjadi tanda-tanda pada alam yang bisa menggentarkan semua orang (25-26). Di tengah situasi yang seperti itulah, Kristus akan datang (27). Bila sebelumnya Ia dipandang rendah dan ditolak orang, pada waktu itu Ia akan datang dalam kemuliaan yang besar. Bagi mereka yang telah menolak Kristus, hari kedatangan-Nya akan menjadi hari penghakiman yang mengerikan. Tetapi orang yang percaya kepada Kristus tidak perlu kuatir karena hari itu akan menjadi hari penyelamatan yang membawa kesukaan (28). Maka orang percaya menyikapi tanda-tanda dahsyat yang terjadi pada alam justru dengan meningkatkan kesiagaan dan kesetiaan iman mengharapkan kedatangan Kristus. Sikap orang Kristen bukan panik, bukan juga acuh dan terbawa arus duniawi, tetapi bangkit dan mengangkat wajah menatap penuh harap akan kedatangan-Nya yang merampungkan karya keselamatan-Nya. Meskipun kita tidak tahu persis hari dan jamnya, kita meyakini bahwa waktu-Nya pasti akan terjadi (29-31).
Melihat bencana mengerikan yang akan menimpa Israel, tampaknya tidak ada lagi harapan bagi mereka. Tetapi bukan di situ akhir rencana Tuhan bagi umat-Nya. Sebab tujuan akhir sejarah umat manusia bukanlah kekacauan dan tragedi, meskipun dosa sempat merusak segalanya. Rancangan Allah adalah damai sejahtera manusia yang terjadi karena hidup dalam persekutuan dengan Dia.
Kita yang hidup pada masa kini juga sedang berada dalam masa penantian kedatangan Kristus yang kedua kali. Bila Anda telah percaya kepada Kristus, bersyukurlah dan hiduplah terus dalam pengharapan dan kesetiaan kepada Dia. Wartakan juga berita kesukaan dan pengharapan ini kepada orang yang belum mengenal Dia karena hanya orang yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus, yang dapat diselamatkan dari murka Allah oleh karena hutang dosanya telah dibayar oleh Kristus.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/03/23/

[SongLirics]Yesuslah Tuhan

Yesuslah Tuhan...

Reff.:
Hosana >>
Jesua Amartia >> xxxxxx
Yesuslah Tuhan... >>

Dengan apakah kubalas Tuhan
semua perbuatanMu kepadaku
Hanya sembah sujud di'diratMu (kakiMu)
lembutkan (tundukkan) hatiku....

Thursday, March 15, 2007

Kunyayi Hosana

Lirics:

di kancah pergumulan di ribut dunia...
Engkaulah perlindungan...
Jiwa pun teduh...

Membaca dan Praiseworship inspirasi hidup dari Alkitab:
Mazmur 139:23-24
Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku;
lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

Lirics:

Inilah (Selidikilah) aku Tuhan
Kenallah (Ujilah) aku Tuhan
Selidiki hatiku dan bathinku
Mataku tertuju padaMu

Aku rindu kepadaMu Tuhan
Aku rindu hadiratMu Tuhan
Aku ingin selalu dekat denganMu
Mataku tertuju padaMu

Reff.:
Kunyanyi Hosana
Bagi Rajaku (Allahku) yang duduk ditahta
Aku muliakan dan kuagungkan
Kau layak disembah.

[songliric] Ajaib TUHAN

Ajaib Kau Tuhan
Penuh kuasa...
sanggup pulihkan keadaanku...

dalam tanganMU s'luruh hidupku...
sanggup pulihkan
iyha Allah ku...

refleksi doa pribadi:
Engkaulah Allah. Sumber yang sanggup dan mampu dan bertindak memulihkan hidupku, hidup kami, hidup setiap orang...hidup yg diserahkan kepada Allah...karena saya ada adalah oleh, untuk dan dari Allah...

Ambillah masa depan saya bagiMu...karena saya ini milikMu penuh...
Karena saya berasal dan bersumber dari Mu maka sesungguhnya tidak ada yang dapat saya pertahankan untuk jadi milik saya sepenuhnya...
Kalaupun saya mencoba mempertahankannya, akanlah menjadi sia2 karena Engkau punya kuasa lebih dari itu...lebih dari semua kuasa yang kami semua umat manusia dan bahkan scientists atau researchers mampu telaah dan teliti dan buktikan...mungkin ada yg sudah terbukti dan mungkin belum...tetapi Engkaulah yg mampu menggerakkan itu semua bergerak cepat atau lambat atau sedang...
Karena itu iyha Allah, tolong saya hidup dalam 'keselarasan' dan 'keharmonisan' dengan Mu setiap hari dan juga dengan rencana masa depan kami dalam keselarasan dan keharmonisan dengan JalanMu, RencanaMu, Maksud2Mu, perasaanMu itu...
Dalam Engkau aku berdoa...Amin

Wednesday, March 07, 2007

prioritas utama: dekat dengan NYA = hpdT = waktupribadi yg berkualitas

Selasa, 6 Maret 2007

Bilangan 6:22-27
Judul: Berkat dari Tuhan Allah berkehendak memberkati umat-Nya melalui perantaraan imam. Terlihat di sini bahwa berkat mengalir dari kasih karunia-Nya, karena keinginan hati-Nya.

Berkat ini terdiri dari tiga bagian dan tiap bagian terdiri dari dua unsur yang saling berkaitan. Berkat yang pertama: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau"(24). Dalam berkat ini tergambar pemeliharaan Allah atas umat-Nya secara penuh. Umat dilindungi dari segala sesuatu yang jahat. Berkat Allah tercurah dalam tindakan yang menyatakan kebaikan-Nya. Berkat yang kedua: "TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia" (25). Ini merupakan tanda perkenan Allah atas diri seseorang. Dengannya orang boleh merasa yakin bahwa Allah akan mendengar doanya dan menyelamatkan dia dari musuh, penyakit, dan dosa. Berkat yang ketiga, "TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera". Berkat ini menyatakan manifestasi kuasa yang memelihara manusia dan yang akan menghasilkan damai sejahtera. Ketika Allah memandang seseorang, itu berarti Ia berkenan atas orang itu dan akan menyelamatkan dia dari kesukaran (band. Mzm. 33:18; 34:16).

Kata berkat memiliki makna yang spesifik dalam Perjanjian Lama. Allah memberkati umat-Nya dengan menganugerahkan keturunan, kekayaan, tanah, kesehatan, dan kehadiran-Nya sendiri di tengah-tengah mereka. Mereka yang berada dalam pemeliharaan Allah akan dilindungi. Berkat Tuhan memberikan gambaran tentang suasana penuh perlindungan, kasih karunia, dan damai sejahtera. Juga gambaran kasih Allah yang makin lama makin dalam.

Banyak orang cenderung dekat dengan Allah karena mengharapkan berkat-Nya. Ini tidak sepenuhnya salah sebab Allah memang sumber berkat. Tetapi jangan hanya mengharapkan berkat lalu menomorduakan Sumber berkat. Kiranya kerinduan kita yang terutama adalah hidup dekat dengan Allah dan menikmati berkat yang lahir dari kedekatan itu.

Sunday, March 04, 2007

Kekudusan pernikahan

Minggu, 4 Maret 2007
Bilangan 5:11-31
Judul: Kekudusan pernikahan Kekudusan dalam pernikahan penting untuk dipelihara. Dalam konteks bangsa Israel saat itu, agar berkat Allah tetap tercurah atas mereka.
Bila seorang suami mencurigai istrinya telah berlaku tidak setia (12-14) maka, entahkah si istri terbukti atau tidak terbukti bersalah, si suami harus membawa istrinya kepada imam dan membawa persembahan tepung jelai sebagai korban cemburuan (15). Ini menandakan bahwa si suami mengharapkan keadilan Allah atas kejahatan yang telah dilakukan istrinya. Imam akan menguraikan rambut perempuan itu dan meletakkan korban cemburuan ke telapak tangan si perempuan (18). Lalu imam akan menyumpah perempuan itu dengan sumpah kutuk (19-22). Setelah itu si perempuan harus meminum air kudus yang telah dibubuhi debu dari lantai Kemah Suci (17, 23-24). Bila kemudian terjadi perubahan dalam dirinya sebagai akibat meminum air itu, itulah bukti bahwa si perempuan bersalah (27). Namun bila tidak ada perubahan apapun, perempuan itu terbukti suci (28). Entahkah si istri terbukti atau tidak terbukti bersalah, si suami tidak akan disalahkan karena kecemburuannya (31).
Bagi kita yang hidup sekarang, peraturan ini tampak berat sebelah. Pengikut feminisme (gerakan wanita yang menuntut persamaan hak antara wanita dan pria) akan memprotes ketidakadilan gender ini: apakah si istri berhak melakukan hal yang sama bila ia mencurigai suaminya telah berlaku tidak setia? Memang tidak. Karena bangsa Israel mengikuti garis otoritas yang ditetapkan Allah: laki-laki bertanggung jawab kepada Allah dan perempuan bertanggung jawab kepada suami atau ayahnya. Peraturan tadi merupakan pedoman bagi umat Allah dalam menangani masalah ketidaksetiaan seorang istri. Bila suami yang tidak setia, Allah sendiri yang akan menjadi Hakimnya (band. Ibr. 13:4). Maka bila Allah sendiri menghendaki kekudusan pernikahan, tentunya pasangan suami istri yang sudah dipersatukan oleh Allah juga harus saling menjaga kekudusan pernikahannya.

Wednesday, February 21, 2007

kesempatan punya harta++? tatalayankan kesempatan dari Dia

Rabu, 21 Februari 2007
Lukas 16:1-9
Judul: Kesempatan Harta dapat menjadi berkat, juga bisa menjadi kutuk. Tergantung bagaimana menggunakannya: menjadikannya pemuas keinginan pribadi atau sebagai sumber untuk melayani sesama. Inilah yang kita pelajari sebagai topik utama dalam pasal 16 ini, yakni tentang penggunaan harta.
Bendahara, dalam kisah ini, memiliki reputasi yang dapat mengancam kedudukannya, terutama ketika tuannya meminta laporan keuangan. Kuatir menghadapi ancaman pemecatan, ia putar otak, mencari cara agar bisa memperoleh bantuan di kemudian hari. Dengan cerdik ia mengambil hati orang yang berhutang kepada majikannya, dengan mengurangi jumlah hutang orang tersebut (5-7). Mungkin si bendahara melakukannya dengan mengurangi jumlah bunga pinjaman orang tersebut yang seharusnya menjadi komisi untuk dia. Dengan apa yang telah dilakukannya, si bendahara berharap telah menanam budi sehingga suatu saat bisa memperoleh bantuan dari orang tersebut. Bendahara yang tidak jujur ini telah belajar dari kegagalannya. Ia mengorbankan miliknya dan kemudian memberikannya pada orang lain supaya ia dapat mengambil keuntungan dari pemberian itu dikemudian hari. Cerdik bukan? Itulah yang dipuji Yesus dari bendahara ini, bila Dia membandingkannya dengan anak-anak terang (8). Meskipun mungkin saja anak-anak dunia menggunakan harta untuk hal-hal yang tidak benar, mereka tetap memikirkan keuntungan semaksimal mungkin yang dapat diberikan harta mereka.
Seharusnyalah kita bijak dalam memaksimalkan penggunaan harta, yang sudah dipercayakan pada kita. Ingatlah bahwa harta tidak dapat dibawa mati. Harta hanya bernilai selama kita hidup saja. Oleh sebab itu jangan gunakan harta hanya untuk kepentingan diri sendiri, gunakanlah juga untuk kemaslahatan orang lain. Karena memiliki harta berarti juga menyandang tugas penatalayanan, maka kita harus memikirkan bagaimana menggunakan harta dalam pelayanan untuk memuliakan Allah.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/02/21/

Sunday, February 18, 2007

[kasihsepanjangmasa]jiwa

Senin, 19 Februari 2007
Lukas 15:1-10
Judul: Gembala yang baik Kita tidak dapat menghindar dari kritik. Apapun yang kita lakukan bisa mengundang kritik, entahkah itu kritik yang membangun atau yang menjatuhkan. Bahkan jika kita diam sekalipun, pasti akan ada kritik yang terlontar. Tidak heran, jika kritik dapat mengubah orang menjadi baik, walau tidak sedikit juga yang berakibat buruk pada seseorang.
Pada waktu itu, Yesus dikritik oleh orang Farisi dan ahli Taurat karena "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka" (2). Bagi mereka, berdekatan dengan orang berdosa akan menyebabkan mereka ketularan tidak `bersih\'. Yesus pun merespons dengan trio perumpamaan: domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang. Dalam perumpamaan yang pertama, si gembala menemukan bahwa ada satu ekor domba yang hilang. Lalu ia mencari domba yang hilang itu sampai ia menemukannya (4). Tidak sedikit pun ia menyalahkan domba yang hilang itu (berlawanan dengan sikap ahli Taurat dan orang Farisi terhadap orang berdosa). Yang Yesus perlihatkan di sini adalah mencari yang hilang, menemukan dan merayakan penemuan itu (6). Begitu pula dalam perumpamaan tentang seorang wanita yang kehilangan satu dari sepuluh dirham yang dimilikinya. Begitu berharganya dirham itu sehingga ia harus bersusah payah mencarinya sampai akhirnya menemukannya. Begitu gembiranya, hingga ia mengajak sahabat dan tetangganya untuk merayakan penemuan itu.
Kedua perumpamaan ini memperlihatkan bahwa Allah adalah Bapa yang aktif mencari orang yang "hilang" dan bersukacita ketika mereka ditemukan. Oleh sebab itulah Dia mengutus Kristus (Mat. 10:6; 15:24, bdk. Luk. 4:18-19). Maka kita, murid-murid-Nya, seharusnya memiliki belas kasih yang sama seperti yang Guru kita miliki. Mari buka mata kita bagi sekeliling kita untuk memperhatikan mereka yang terhilang. Temui mereka dan kabarkan Berita Kesukaan itu! "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Luk. 19:10)

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/02/19/

pujian pembangkit semangat: ...Jadilah jawaban bagi yang memerlukan NYA ... hari ini...

Saturday, February 17, 2007

mengikut DIA: mau dimuridkan & 'bayar harga'

Lukas 14:25-35
Judul: Syarat ikut Yesus Seorang tokoh masyarakat biasanya akan senang memiliki pengikut. Apalagi kalau ia berkarier di bidang politik. Banyaknya pengikut akan menunjang kemajuan kariernya.
Yesus saat itu diikuti banyak orang. Tetapi Ia tahu bahwa itu bukan karena mereka memiliki komitmen untuk mengikut Dia. Mungkin saja hanya karena Yesus sedang populer saat itu. Oleh karena itu Yesus berkata pada mereka bahwa jika mereka tidak "membenci" anggota keluarganya, bahkan dirinya sendiri, mereka tidak dapat menjadi murid-Nya (26). Yesus bukan bermaksud agar pengikut-Nya tidak menghargai keluarga mereka. Yang Ia maksudkan adalah tidak ada ikatan apapun, yang boleh melebihi kesetiaan dan ketaatan orang pada Yesus. Dialah yang harus menjadi nomor satu! Tidak ada tempat buat yang lain. Hanya jika Dia menjadi prioritas utama dalam hidup seseorang, barulah dia dapat menjadi murid Yesus. Itulah sebabnya mereka harus berpikir masak-masak, karena untuk itu harus ada keseriusan dan komitmen. Sebab mengikut Yesus bukan hanya bicara masalah sekarang, tetapi juga mencakup keputusan dalam hidup di masa depan. Oleh karena itu, jika orang tidak memiliki kesungguhan hati, sebaiknya jangan mulai! Jangan maju ke medan perang, jika tidak yakin akan menang.
Mengikut Tuhan Yesus memang punya konsekuensi. Mungkin kita harus mengambil keputusan yang sangat berbeda dengan dunia di sekitar kita, keluarga akan memusuhi kita, kita akan dikucilkan di lingkungan kita, atau tidak memperoleh keuntungan karena kejujuran kita. Kita memang harus sadari bahwa menjadi murid Tuhan berarti siap menempatkan Yesus di atas segala kepentingan pribadi, keluarga atau karier. Ikut Yesus berarti memikul salib yang bermakna mematikan keakuan dan keinginan pribadi (27). Hanya yang setia melakukan kehendak Tuhan dan teguh imanlah yang akan disebut murid Tuhan.
Camkan: "... karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar." (Filipi 2:12)

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/02/18/

Tuesday, February 13, 2007

Sekarang waktunya! Mengasihi DIA lebih lagi...

Rabu, 14 Februari 2007
Lukas 13:22-35
Judul: Sekarang waktunya! Free pass adalah tiket bebas masuk untuk menonton film di bioskop. Tiket ini diberikan kepada orang-orang yang bekerja atau memiliki saham di bioskop tersebut.
Sebagai keturunan Abraham, orang Israel mengira bahwa fakta itu merupakan jaminan untuk memperoleh free pass guna masuk ke dalam Kerajaan Surga. Padahal Yohanes pernah memperingatkan mereka akan hal ini (bdk. Luk. 3:7-8). Yesus juga menyanggah pendapat itu melalui perumpamaan tentang pintu yang sempit. Dalam perumpamaan ini kelihatannya seorang Tuan Rumah sedang mengadakan perjamuan. Namun tidak mudah untuk masuk ke dalam karena hanya ada satu pintu sempit, sementara banyak orang yang akan masuk (29). Itu sebabnya tiap orang harus berjuang keras untuk masuk. Tidak ada seorang pun yang mendapatkan free-pass. Bukan hanya itu masalahnya. Pintu akan segera ditutup. Mungkin perjamuan akan segera dimulai. Itu berarti tertutupnya kesempatan untuk masuk, siapapun dia dan bagaimanapun usahanya untuk masuk! Juga meskipun mereka berupaya mengetok pintu dan mengaku pernah bersama-sama dengan Si Tuan Rumah (25-27). Itu sebabnya tiap orang harus bertindak cepat! Perumpamaan ini adalah pesan yang Yesus ingin sampaikan pada para pendengar-Nya: waktu untuk bertobat dan menerima Yesus sungguh singkat!
Pesan ini juga merupakan peringatan bagi kita. Bertobatlah dan masuklah ke dalam Kerajaan Allah segera, selama pintu masih terbuka. Yesus berkata bahwa kita harus berusaha keras untuk masuk karena belum tentu ada kesempatan lain. Ini bukan berarti bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan usaha manusia, tetapi karena waktunya begitu singkat. Bagaikan hadiah yang sedang diperebutkan banyak orang, kita harus menggapainya. Kita tidak bisa bersikap pasif! Segera atau kita akan kehilangan! Karena itu, jangan tunda! Jangan sampai terlambat! Inilah waktunya untuk mengambil keputusan! Jangan sampai kesempatan ditutup dan kita akan menyesal selama-lamanya.

Taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/02/14/

...Selamat Hari Kasih Sayang...
...GBU all...

Monday, February 12, 2007

[karuniaNYA]keselamatan

Selasa, 13 Februari 2007

Lukas 13:10-21
Judul: Keselamatan bagi siapa saja Hari Sabat merupakan hari yang sakral bagi orang Yahudi. Begitu berlebihan arti kesakralan yang diberikan pada hari Sabat sehingga tidak seorang pun diperbolehkan melakukan sesuatu pada hari itu, sekalipun untuk menyembuhkan orang lain (14). Bahkan sampai mengakibatkan keterbelengguan rohani di kalangan umat Allah.

Oleh sebab itulah Yesus memberikan wawasan berbeda tentang hari Sabat. Pada hari itu, Ia menyembuhkan seorang perempuan yang bungkuk punggungnya karena dirasuki roh selama delapan belas tahun. Akibat tindakan Yesus, kepala rumah ibadat kemudian melontarkan reaksi negatif (14). Sama sekali tidak terbit sukacita dari dalam hatinya atas karya Allah dalam diri perempuan itu. Jawaban Kristus kemudian kepada kepala rumah ibadat menekankan kata "melepaskan dan dilepaskan" (15-16). Artinya hari Sabat ada untuk melepaskan dan bukan untuk mengikat, misalnya melepaskan orang berdosa, dan bukannya membuat orang jadi berdosa. Yesus menegaskan, jika ternak mereka saja bisa mendapatkan perhatian pada hari Sabat, bukankah sesama mereka jauh lebih layak untuk itu? Bukankah hari Sabat justru merupakan hari yang tepat untuk melepaskan ikatan Iblis atas diri perempuan itu dan dengan demikian menyatakan kehadiran Kerajaan Allah yang berkuasa?

Kuasa kehadiran Kerajaan Allah jugalah yang ingin digambarkan oleh Yesus melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi. Tampaknya kecil tapi pada suatu waktu nanti akan menembus dan mempengaruhi dunia. Tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menghentikan karya Kerajaan Allah, yang juga akan menjadi tempat bernaung bagi banyak orang. Maka kita seharusnya bukan bertindak seperti kepala rumah ibadat yang menghalangi orang untuk mengalami kuasa Kerajaan Allah itu. Kiranya kita justru menjadi agen-agen pembaruan yang memperluas kesempatan kepada banyak orang untuk mengenal dan mengalami kuasa Kerajaan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/02/13/

Monday, February 05, 2007

keperluan berpikir soal harga yang harus dibayar: contoh tokoh Paulus...

Senin, 5 Februari 2007

Bacaan Setahun : Keluaran 36-38; Matius 23:1-22
Nats : Siapa bijak, mengambil hati orang (Ams. 11:30)

HARGA SEBUAH JIWA
Bacaan : Matius 16:24-28


Menurut sebuah artikel dalam Wall Street Journal, Hemant Mehta ingin mencari tahu apakah ia "kehilangan sesuatu" sebagai seorang ateis. Maka, lulusan DePaul University ini mengajukan sebuah penawaran melalui situs lelang eBay: Ia akan datang ke gereja selama satu jam untuk setiap 10 dolar uang yang diberikan penawar tertinggi. Seorang mantan pendeta penginjil memenangkan lelang tersebut dengan tawaran sebesar 504 dolar.

Berapa harga yang mau Anda bayar untuk kesempatan memperkenalkan Kristus kepada satu orang tidak percaya? Paulus memberi jauh lebih besar daripada 504 dolar ketika ia berjuang mengabarkan Injil kepada orang-orang yang belum pernah mendengar tentang Yesus Kristus. Ia melakukan perjalanan yang jauh dan sulit berkeliling dunia. Dalam catatan yang menarik, ia menceritakan berbagai pengalamannya: karam kapal, dipenjara, didera, dilempari batu, dipukuli, kelelahan, kelaparan, kedinginan, dan terancam bahaya maut (2 Kor. 11:23-28).

Dalam usaha mengabarkan Injil selama 2.000 tahun, orang-orang pemberani telah meninggalkan kampung halaman untuk me-ngabarkan Kristus di tempat-tempat terpencil, primitif, dan berbaha-ya. Banyak yang kehilangan nyawa; atau menderita siksaan. Di berbagai tempat di dunia saat ini, berbicara tentang Yesus di depan publik berisiko mengalami kesusahan, hukuman, bahkan kematian.

Dengan merenungkan pengurbanan Yesus bagi kita, pengorbanan apa pun yang kita lakukan untuk membawa sesama kepada-Nya akan sepadan dengan hasilnya --DCE


Beri aku hasrat akan jiwa-jiwa, ya Tuhan,
Belas kasih untuk menyelamatkan yang terhilang;
Biarpun sulit dan penuh pengorbanan
Kiranya kasih-Mu menjamah mereka. --Tovey

KETIKA KITA MEMBUKA HATI KEPADA TUHAN
DIA MEMBUKA MATA KITA TERHADAP ORANG-ORANG

YANG TERHILANG

was taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2007/02/05/#SABDAweb

doa: tolonglah kami untuk 'diberi hati' untuk mengerjakan bagian kami yg terbaik dariMu setiap saat dalam waktu2 ini...

Wednesday, January 31, 2007

hari ini

Rabu, 31 Januari 2007
Lukas 10:17-24
Judul: Sukacita sejati Sukacita bisa muncul karena berbagai sebab. Ada sukacita yang muncul sebab berhasil menyelesaikan dengan baik tugas yang telah dipercayakan. Ada juga yang menyertai sukacita itu dengan rasa bangga yang tidak tepat.
Para murid telah menyelesaikan misi yang dipercayakan pada mereka (17). Mereka mengalami euforia (perasaan gembira yang berlebihan) karena menurut mereka hasilnya luar biasa! Mereka dapat mengalahkan setan-setan! Padahal sebelumnya murid-murid lain gagal melakukannya (Luk. 9:37-43a). Itu artinya mereka memiliki otoritas yang lebih besar di dalam nama Tuhan Yesus, dan mereka bersukacita karena hal itu! Tetapi menurut Yesus, sukacita mereka tidak pada tempatnya. Melayani Allah memang merupakan hak istimewa dan memiliki kuasa Allah untuk mengusir Iblis dapat dianggap sebagai keajaiban. Yesus memang melihat bahwa apa yang telah mereka lakukan merupakan kekalahan Iblis (18) dan digenapinya janji mesianis, yakni kemenangan Kristus atas kuasa kegelapan. Namun alasan terbesar untuk bersukacita seharusnya adalah karena mereka memiliki hidup yang kekal! Yang utama bukan bersukacita karena telah mampu mengusir Iblis, tetapi lebih baik bersukacita karena telah memiliki keselamatan. Sebab sukacita orang percaya bukan terutama terletak pada kehancuran Iblis tetapi pada fakta bahwa orang percaya telah menjadi milik Allah dan nama mereka telah tercatat di surga (20).
Ini jugalah yang menjadi sukacita Yesus, yakni bahwa Allah menyatakan diri dan karya-Nya kepada para murid. Itu sebabnya para murid harus bersukacita karena banyak orang di masa silam yang ingin mengalami karya keselamatan Allah seperti yang telah dialami murid-murid namun mereka tidak memiliki kesempatan itu

Saturday, January 27, 2007

lebih jauh soal Yesaya 60:22 ... be practice ... all of you

"Heed The Call"

For God so loved the world
He gave His only Son
Whoever believes in Him
Has eternal life

Yet many still are lost
Many still unreach
Who will go? Who will send?
How will we reach them?

Unless a grain of wheat
Falls away and dies
It remains a single seed
Never multiplies

If only we would die
We can multiply
Give yourself to one life
And reach the world for Christ

Reff.:
The least will be athousand
The samllest mighty nations
A vision for the world
A heart for the individual

Let's heed the call
Let's kneel and pray
For that faithful man today

Take hold of His Word
Go to the world today
He's working out His Promises
Near and far away

The blessing of salvation
That's our proclamation
So let Christ be lifted up
Through you and me today

...

Friday, January 19, 2007

...belajar dengar FirTU en lakukan...

Sabtu, 20 Januari 2007

Lukas 8:16-21
Seorang guru pasti berkeinginan membagi ilmu yang dimilikinya dengan murid yang dia ajar. Untuk itu ia akan mencari cara terbaik agar muridnya dapat memahami pelajaran yang dia berikan. Begitu pula dengan Yesus, Sang Guru. Banyak cara yang Dia pakai untuk menolong para murid memahami kebenaran. Misalnya dengan memakai perumpamaan. Perumpamaan, dalam pengajaran-Nya, tidak dimaksudkan-Nya untuk menjadi tudung yang menyembunyikan terang. Sebaliknya, justru seperti tiang tempat menggantungkan lampu supaya terangnya bisa bersinar semakin luas. (16)

Walaupun bagi sebagian orang, pengajaran Yesus sulit dimengerti tetapi itu bukan karena perumpamaan yang dipakai Yesus, melainkan karena mereka tidak memiliki pengertian. Memang ada kemungkinan bahwa kebenaran itu suatu saat tersembunyi dan orang tidak dapat memahaminya, namun akan ada masanya kebenaran itu disingkapkan (17). Dalam menantikan masa itu, hendaknya orang belajar memahami kebenaran sebaik-baiknya dan hidup di atas kebenaran itu. Karena jika orang menerima dan melakukan kebenaran maka Tuhan akan menyatakan kebenaran lebih banyak lagi kepada orang tersebut. Ia menghargai orang yang demikian karena dianggap memiliki pertalian dengan-Nya (21). Sebaliknya, jika orang tidak mendasarkan hidup di atas kebenaran maka orang itu akan kehilangan kepekaan dan kebutuhan akan kebenaran. Bila demikian yang terjadi maka iman pun tidak akan bertumbuh!

Tentu gambaran pertamalah yang kita inginkan terjadi dalam kehidupan kita, yakni menjadi orang yang dihargai Tuhan. Namun untuk menjadi seperti itu, tidak cukup hanya dengan melakukan aktivitas rohani. Kita perlu memiliki hati yang reseptif, yaitu hati yang terbuka dan tanggap.

Camkan: Apa gunanya berdoa dan membaca firman Tuhan berjam-jam kalau tidak memiliki hati terbuka terhadap suara Tuhan? Mendengar firman saja tidak cukup! Perlu ketaatan!

penerapan pribadi:
mendengar dengan hati terbuka satu dua hari ini pada 'suaraNya' soal kegiatan saya di PSU selain focus utama belajar [masa depan isteri dan anak; kuliah sambil kerja yg dukung percepatan pengetahuan soal applikasi riset tanpa mengorbankan hal2 utama dan dasar2]...

Sunday, January 14, 2007

tantangan nyata Mengasihi sesuai FirTu

Minggu, 14 Januari 2007
Lukas 6:27-42
Judul: Mengasihi musuh Sekali lagi mereka yang "mendengarkan" Yesus (27; bdk. 6:18, 45-49) dikejutkan dan ditantang untuk menganut pola hidup dan peri laku yang mencerminkan nilai-nilai kerajaan Allah yang ditandai oleh sikap radikal, "mengasihi musuh" (27a; 32; 35a). Sikap ini diwujudkan dalam dua tindakan konkret. Yang pertama ialah "berbuat baik" -- bukan secara pasif melainkan secara proaktif di tengah serangan dan permusuhan terhadap kita: berbuat baik, memberkati, mendoakan, memberikan pipi yang lain, bahkan jubah dengan bajunya juga (27b-29; 33; 35b).
Yang kedua ialah "memberi" atau "meminjamkan" dengan ikhlas "tanpa mengharapkan balasan" (30; 34; 35c; 38). Inilah implikasi dari ucapan bahagia: pengikut Yesus dipanggil untuk membentuk suatu umat, warga Kerajaan Allah, yang ciri utamanya ialah tidak memperlakukan orang lain (khususnya mereka yang "membenci, mengucilkan, mencela dan menjelekkan" kita) sebagai musuh. Yang Yesus minta dari murid-murid-Nya ialah menerima nilai-nilai yang memutarbalikkan tata cara dunia sosial mereka.
Pola hidup dan perilaku ini haruslah berakar pada karakter Allah sebagai Bapa yang murah hati (36), termasuk kepada mereka "yang tidak tahu berterima kasih dan jahat" (35). Orang-orang semacam ini lazim kita pandang sebagai "musuh." Kemurahan hati Allah itu harus kita terjemahkan pula dalam tindakan tidak menghakimi tetapi mengampuni, tidak menonjolkan kesalehan sendiri dengan menekankan kekurangan orang lain (37; 41-42). Kemurahan hati Allah yang berlimpah diibaratkan seperti pedagang di pasar yang tidak pelit, melainkan mengisi takaran atau timbangannya penuh-penuh, bahkan meluap ke luar (38). Demikianlah cara Allah Bapa memperlakukan anak-anak-Nya, yang dalam peri laku mereka terhadap sesama meneladani karakter-Nya.
Renungkan: Sama seperti Allah dengan murah hati meng-anugerahkan pengampunan dan penebusan dari dosa di dalam Kristus, demikianlah hendaknya anak-anak-Nya.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/01/14/

Friday, January 12, 2007

yang berbahagia...dalam Kasih-NYA

Sabtu, 13 Januari 2007

Lukas 6:20-26
Judul: Siapakah yang berbahagia? Hanya di dalam Injil Lukas kita jumpai ucapan bahagia bagi yang "miskin" dan langsung diikuti peringatan tajam bagi yang "kaya." Hidup si miskin, yang diwarnai kelaparan, kesedihan, dan dicela "karena Kristus," kelak diwarnai kepuasan dan tawa (20-23). Sebaliknya, hidup si kaya, yang ditandai dengan kekenyangan, tawa ria dan pujian, kelak ditandai dengan kelaparan dan tangis (24-26).

Melalui ajaran ini Yesus membuat pendengarnya tersentak dari kebiasaan cara berpikir dan pola hidup duniawi, yang berbeda drastis dengan prinsip dan pola hidup Kerajaan Allah. Dalam pola hidup dunia, yang kaya bahagia dan yang miskin tersingkir. Tidak demikian halnya di dalam Kerajaan Allah. Di sini Injil diberitakan kepada "orang miskin" (4:18-19). Kaya-miskin di dalam Injil Lukas bukan sekadar ukuran ekonomi. Termasuk golongan "miskin" adalah orang-orang yang tersingkir dari masyarakat, baik karena alasan ekonomi maupun bukan: yang cacat tubuh atau jiwa, penderita kusta, pemungut cukai, pelacur. Ucapan bahagia berisi kata-kata pengharapan dan penghiburan bagi mereka, dan bagi siapa saja yang menerima pelayanan Yesus. Mereka semua dirangkul dan dipulihkan, jasmani dan rohani.

Kepada yang kaya Yesus pada dasarnya mengingatkan akan bahaya kekayaan, bahwa ia senantiasa menghadirkan godaan untuk menemukan pegangan hidup dan rasa aman di luar Tuhan (bdk. 8:14; 12:13-21). Kekayaan juga cenderung menimbulkan ketidakpedulian terhadap kebutuhan sesama (bdk. 16:19-31; 18:22). Yesus tidak mengecam kekayaan; Ia sendiri menerima dukungan bagi pelayanan-Nya dari murid-murid yang kaya (bdk. 8:1-3; 23:50-56a). Kekayaan itu sendiri tidak jahat, tetapi harus diwaspadai karena ia dapat menguasai kita jika ia tidak dikuasai dan dikendalikan. Inilah inti peringatan Yesus.

Renungkan: Rencana penebusan Allah di dalam Kristus menjangkau semua lapisan masyarakat, miskin maupun kaya.

'kuasa' : doa, sehati dengan DIA

Jumat, 12 Januari 2007

Lukas 6:12-19
Judul: Kuasa untuk pelayanan Doa adalah salah satu tema utama Injil Lukas. Yesus naik ke "bukit" untuk berdoa kepada Allah semalam suntuk (12), sebagai persiapan untuk memilih kedua belas rasul (13-16) dan untuk pelayanan selanjutnya, baik dalam pengajaran maupun penyembuhan orang sakit (18-19).

Kedua belas rasul dipilih dari antara sekian banyak murid yang mengikut Yesus (13). Mereka disebut "rasul," sebutan yang diberikan kepada orang yang diserahi tanggung jawab sebagai utusan dan saksi (bdk. Kis. 1:21-25). Mereka dipersiapkan untuk melanjutkan pekerjaan Yesus di dunia dan menjadi pemimpin umat Allah yang baru, menggantikan kepemimpinan para pemuka agama Yahudi yang tidak mengakui karya penebusan Allah di dalam Yesus. Pemilihan para rasul dilakukan di atas "bukit," suatu lokasi yang di dalam literatur Yahudi sering dikaitkan dengan penampakan Allah dan pemberian wahyu Ilahi. Itu berarti, mereka dipilih atas kehendak Allah, yang Ia nyatakan kepada Yesus melalui doa (bdk. 3:21-22; 5:16-17). Sesudah memilih kedua belas rasul, Yesus turun dari bukit bersama mereka (17a). Melalui doa, Yesus diurapi dengan kuasa untuk pelayanan-Nya, baik dalam mengajar maupun menyembuhkan orang-orang dari segala lapisan masyarakat (17b-19). Kata yang sama, "menyembuhkan," untuk penyakit fisik (18a) dipakai juga untuk pembebasan dari gangguan roh jahat (18b).

Bagi Lukas, kesehatan bukan hanya meliputi unsur fisik atau medis saja, tetapi juga unsur sosial dan spiritual. Orang yang sakit fisik atau dirasuk roh jahat bisa mendapat penderitaan lain, yaitu disingkirkan masyarakat. Kesembuhan mereka berarti pulihnya kembali status dan fungsi sosial mereka dalam keluarga dan masyarakat. Maka di dalam kuat kuasa Roh Allah, Yesus mematahkan kuasa iblis, musuh utama dari karya penebusan dan pemulihan Allah, seperti ditandaskan Lukas di ay. 19: "dan semua orang itu disembuhkan-Nya."

Renungkan: Pelayanan yang disertai kuat kuasa Allah tidak terlepas dari ketekunan dalam doa.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/01/12/

Terima Kasih Allah karena hak istimewa dapat berdoa. Amin

Monday, January 08, 2007

...mengenal diri dan world view +.

Senin, 8 Januari 2007

Lukas 5:1-11
Judul: Mengenal Yesus, mengenal diri "Bagaimana mungkin seorang tukang kayu mengajari seorang nelayan tentang cara menangkap ikan?" Mungkin begitulah gambaran pikiran Petrus saat Yesus menyuruh dia menangkap ikan. Sementara ia dan teman-temannya telah sepanjang malam bekerja keras tanpa hasil (5).

Petrus, mewakili kebanyakan orang, keliru memahami Yesus. Yesus pada awal-awal pelayanan menyatakan kemesiasan-Nya bukan hanya dengan pernyataan diri (4:16-21), melainkan juga dengan pengajaran dan karya-karya-Nya. Sebelum peristiwa dalam perikop ini, beberapa pelayanan Yesus sudah menyatakan bahwa Ia lebih daripada manusia biasa: roh jahat diusir (4:31-37) dan orang sakit disembuhkan (4:38-41). Yesus juga bukan sekadar guru agung atau pembuat mukjizat yang populer. Yesus adalah Tuhan atas alam ini! Lalu sikap sok tahu Petrus berubah menjadi rasa malu dan gentar ketika melihat Yesus berdaulat atas ikan di laut Genesaret (8). Berhadapan dengan Yesus dan mengalami kuasa-Nya membuat Petrus menyadari keberadaan dirinya yang berdosa. Suatu sikap yang Yesus inginkan ada dalam diri orang yang akan Dia panggil menjadi hamba-Nya. Maka kisah penangkapan ikan berlanjut menjadi kisah `penangkapan\' Petrus oleh Yesus. Sejak saat itu, Petrus akan menebarkan jalanya di laut yang berbeda, yakni lautan manusia yang membutuhkan Kristus.

Betapa luar biasa anugerah Allah yang mengubah orang berdosa menjadi hamba-Nya. Kita pun dapat mengalami anugerah itu dalam hidup kita, bila kita menyadari keberdosaan kita dan betapa kita memerlukan pertolongan Kristus. Hanya Yesus yang sanggup mentransformasi hidup kita, dari kepapaan rohani yang terbungkus kesombongan dan kepicikan, menjadi pengikut yang dapat dipakai-Nya memenangkan jiwa sesama kita.

Syukurku: Terima kasih Tuhan karena Engkau lebih mengenal aku daripada aku mengenal diriku sendiri. Ini aku, bentuklah aku seturut maksud-Mu yang mulia.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/01/08/