Monday, December 25, 2006

[selamat natal]special gifts

Ulangan 6 : 4-6
Yohannes 3 : 16

Selamat Natal
Salam Jauh Dekat di Hati NYA














he he he he he godoproduction, co., ltd.

Saturday, December 16, 2006

Pergumulan: Wanita dan Keluarga

Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/125/





e-Konsel edisi 125 (4-12-2006)
Wanita Karier dan Keluarga


Edisi (125) 01 Desember 2006

e-KONSEL
======================================================================
Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen
======================================================================

Daftar Isi:
= Pengantar : Wanita Masa Kini
= Cakrawala : Ibu Full Time Bekerja dan Ibu Full Time
di Rumah
= TELAGA : Wanita dan Karier
= Tanya Jawab Konseling: Istri yang Bekerja di Luar Rumah
= Info : Rencana Peluncuran Publikasi Baru YLSA

========== PENGANTAR REDAKSI ==========

Rupanya profesi sebagai ibu rumah tangga sudah bukan lagi
satu-satunya pilihan yang harus diambil oleh seorang wanita. Sudah
tidak zamannya lagi jika seorang wanita hanya berkutat dengan urusan
dapur, anak, suami, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Pada zaman
sekarang ini, sudah menjadi hal yang biasa jika seorang wanita
memiliki karier yang cemerlang.

Bagi wanita yang belum menikah, pergeseran paradigma ini mungkin
tidak begitu memberikan pengaruh. Sebaliknya, hal ini jelas
memengaruhi wanita yang sudah berumah tangga. Dalam sehari, ia
dituntut untuk menjalankan peran sebagai seorang istri, ibu, dan
sekaligus wanita karier. Dengan demikian, ia dituntut untuk bisa
menjalankan semua peran dan tanggung jawabnya dengan baik.

Bagaimanakah sebaiknya seorang wanita menyikapinya? Bagi pembaca
yang saat ini bergumul dengan masalah ini, melalui edisi awal
Desember ini, e-Konsel mengajak pembaca menyikapinya secara
kristiani. Silakan simak, Tuhan memberkati,

Redaksi e-Konsel,
Ratri

========== CAKRAWALA ==========

IBU FULL TIME BEKERJA DAN IBU FULL TIME DI RUMAH

Sebelum menikah, kita menyusun cita-cita setinggi langit. Kita
berusaha meraih pendidikan setinggi bintang dan karier setinggi-
tingginya. Ketika baru menikah kita mengangankan anak-anak yang lucu
dan mungil. Kita pun menyusun idealisme orang tua yang baik. Tanpa
terasa konflik antara idealisme dan cita-cita mulai muncul. Kita
mulai dihadapkan kepada realita bahwa hidup sangatlah kompleks. Anda
tidak sendiri. Ada banyak ibu-ibu yang bergumul untuk hal ini.

Ibu Full Time Bekerja:

Saya ibu dari dua orang anak (usia dua dan tiga tahun) dan bekerja
"full time" sebagai sekretaris. Kedua anak saya sepenuhnya diasuh
oleh "baby-sitter". Saya hanya bertemu dengan anak saya pada waktu
malam hari (mereka tidak tidur dengan pengasuhnya itu), pagi hari
sebelum saya berangkat bekerja, dan "week-end".

"Baby sitter" yang baik bagi saya adalah yang ringan tangan, sopan,
dan tahu statusnya sebagai penolong, bukan pengatur. Tapi kita pun
harus memperlakukan "baby-sitter" dengan baik, seperti layaknya
keluarga sendiri sehingga ia dapat memperlakukan anak kita
dengan baik juga. (LID)

Anak saya yang laki-laki mengalami sakit "hiper-pigmentasi" (separuh
wajahnya berwarna hitam dan berbulu). Sejak ia lahir saya selalu
bertanya, "Mengapa Tuhan mengaruniakan anak seperti ini kepada
saya?" Saya melalui kehidupan dengan stres dan air mata. Apalagi
saya tinggal dengan mertua. Oleh sebab itu, waktu kerja di kantor
merupakan penyegaran dan penghiburan untuk saya. Tapi selain itu,
tujuan utama saya adalah supaya saya bisa mengumpulkan cukup biaya
untuk operasi anak saya tahun depan. Ketika dia lahir, saya sudah
berjanji akan berusaha sekeras mungkin demi kesembuhannya. Saya
sangat berharap mujizat dari Tuhan karena saya tidak bisa bayangkan
bagaimana anak usia tiga tahun harus melalui operasi. Hati saya
sangat susah kalau mengingat penderitaan anak saya. (LK)

Saya ingin sekali berhenti bekerja dan mengasuh anak saya sendiri.
Saya sangat mencintai anak-anak dan saya tahu betul bahwa mengasuh
anak sendiri jauh lebih baik daripada memasrahkannya kepada orang
lain. Akan tetapi, hal itu belum memungkinkan. Pekerjaan suami saya
sangat tidak stabil. Kami bahkan pernah kehabisan uang sama sekali,
hanya tersisa beberapa ratus rupiah saja. Dalam keadaan seperti ini
saya harus bisa menerima keadaan saya dengan berat hati. Saya betul-
betul ingin punya waktu sebanyak-banyaknya mendampingi anak saya.
Oleh sebab itu, hari Sabtu dan Minggu adalah hari yang paling
menyenangkan, tapi paling melelahkan. Pada hari-hari itu saya
mengasuh anak saya sepenuhnya. Di hari-hari biasa pun saya selalu
menyuapi anak saya sepulang kantor, sekalipun saya masih lelah.
(YAN)

Selama bekerja, anak saya diasuh oleh "baby-sitter" dan diawasi oleh
ibu saya. Kebetulan "baby-sitter" ini cukup baik, tidak suka
memerintah, dan mau bekerja sama dengan saya. Dia melakukan segala
sesuatu sesuai dengan keinginan saya. Sepulang kerja saya selalu
berusaha untuk langsung memegang anak saya. Memang kadang-kadang
saya rasanya ingin membiarkan "baby-sitter" yang terus mengurus anak
saya karena saya sangat lelah, tapi saya tahu itu tidak baik.
Risikonya, kadang-kadang saya tidak mempunyai waktu untuk suami,
bahkan untuk diri sendiri. Itupun tidak baik, tapi itulah yang
terbaik yang saya bisa lakukan. Kadang-kadang saya merasa ingin
makan malam hanya dengan suami, akan tetapi demi kebersamaan dengan
anak, saya biarkan dia duduk di samping saya dan ikut makan sedikit
lagi. Memang saya tidak selalu harus mengurusnya sepulang kerja.
Film "Doel anak Sekolahan" dan kegiatan bermain kadang-kadang lebih
menarik daripada kehadiran saya. Akan tetapi, ketika saya pulang
ataupun di hari Sabtu dan Minggu, itulah kesempatan saya untuk
membimbing kerohanian anak saya. Tiap malam saya menceritakan kisah
dari Alkitab bergambar, kemudian berdoa bersama. Kadang-kadang
permintaan doa anak-anak sangat lucu dan saya sangat menikmati waktu
bersama seperti itu. (NAT)

Ibu Rumah Tangga Full Time:

Saya adalah orang yang tidak suka macam-macam; pikiran saya
sederhana saja. Bagi saya mendidik tiga anak ini saja sudah
kompleks. Kalau ditambah harus bekerja, saya bisa kebingungan. Tiap
hari anak-anak harus diawasi belajarnya karena mereka belum punya
kesadaran disiplin sendiri. Zaman sekarang, pengaruh buruk sering
mengganggu pikiran anak-anak. Oleh karena itu, saya menyibukkan
mereka dengan banyak kegiatan (les mandarin, berenang, piano, dan
gambar). Selain harus mempersiapkan pelajaran dan ulangan sekolah,
kegiatan-kegiatan di luar sekolah tidak akan memberikan peluang bagi
mereka untuk berpikir atau melakukan yang tidak-tidak. Sudah barang
tentu saya harus terus mengawasi dan mendampingi. Memang saya harus
bersabar, saat ini mereka harus dipaksa disiplin. Tapi saya yakin
suatu saat, pola disiplin itu akan menjadi bagian dalam diri mereka.
(LIL)

Saya dan suami menggembalakan jemaat kecil yang sangat menuntut.
Sebagai penginjil wanita dan istri penginjil, akhirnya saya "full
time" sebagai ibu rumah tangga dan "full time" melayani. Anak saya
sudah mulai bisa jalan dan harus terus diawasi. Tapi saya juga harus
tetap khotbah, memimpin PA, atau persekutuan. Terpaksa saya harus
menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa mempersiapkan pelayanan
sebaik dulu lagi. Saya hanya bisa melakukan persiapan pada saat anak
dan suami sudah tidur. Di luar waktu itu sudah tidak mungkin. Waktu
yang paling melelahkan dan membingungkan adalah pada saat suami
pergi pelayanan ke luar dan saya harus melayani penginjil tamu. Di
saat yang bersamaan saya harus melayani anak, tamu, dan jemaat.
Badan saya sekarang sudah kurus kering. Sukacita saya adalah pada
saat melihat bagaimana anak saya bertumbuh. (LIDW)

Hal yang paling mendorong dan terus memotivasi saya di tengah
kesibukan dan kejenuhan mengasuh dan mendidik anak adalah prinsip
dasar yang saya pegang. Prinsip tersebut adalah "Tuhan memberikan
anak ini untuk saya didik sehingga saya bertanggung jawab penuh
untuk menjaga dia dari pengaruh dunia dan mendidik dia ke arah
kebenaran firman Tuhan". Ada beberapa alasan mengapa saya memilih
untuk menjadi ibu rumah tangga "full time".

1. Ibu sebagai pengembang bakat anak.

Berdasarkan prinsip dasar tadi, saya bertanggung jawab untuk
mengembangkan bakat yang sudah Tuhan berikan kepada anak saya.
Saya adalah satu-satunya orang yang tepat untuk melakukannya
karena saya yang paling mengenal dia dan yang paling mengerti
bagaimana mendorongnya untuk berkembang. Saya melihat bahwa anak
ini istimewa sehingga saya harus menuangkan konsentrasi saya pada
anak ini.

2. Ibu sebagai penyeleksi pengaruh lingkungan.

Saya dan suami sepakat untuk mendidik anak kami tanpa campur
tangan ataupun pengaruh dari orang lain. Kami berusaha menjaga
anak kami dari pengaruh yang tidak sesuai dengan prinsip kami
karena kami sadar bahwa di usia balita ini, anak kami belum bisa
membedakan "tangan kiri dari tangan kanan" (yang baik dari yang
jahat). Saya berusaha selalu mendampingi anak saya di mana saja,
sehingga pada saat ada pengaruh lain yang masuk saya bisa cepat
menetralisir. Misalnya, banyak orang (termasuk orang Kristen)
yang menertawakan hal yang salah yang dilakukan oleh anak saya.
Tentu saja hal ini menjadi pendorong bagi anak saya untuk
mengulanginya lagi. Saya harus segera menetralisir dan menegaskan
bahwa hal yang salah itu tidak lucu dan harus dibuang. Kehadiran
saya mutlak diperlukan oleh anak saya selama 24 jam karena saya
tidak bisa "aplusan" dengan suami. Suami saya seorang penginjil
yang sibuk sekali selama seminggu penuh.

3. Ibu sebagai pembangun benteng perlindungan.

Zaman kita sekarang ini sudah kotor dengan polusi pendidikan.
Dari TV, majalah, pergaulan, dan tempat umum lain, anak belajar
soal kekerasan, seks, dan prinsip-prinsip hidup yang bertentangan
dengan firman Tuhan. Zaman ini telah membentuk pola pikir
masyarakat yang jauh dari kebenaran. Oleh sebab itu, sejak dini
saya harus menolong anak saya agar memiliki pola pikir yang dapat
melindungi dirinya dari polusi tersebut saat dia besar nanti.

4. Ibu sebagai kebanggaan anak.

Belajar dari pengalaman sendiri, saya tidak mau di masa yang
mendatang anak saya berkata, "Saya menyesal sekali ibu saya
mendidik dengan cara seperti ini." Saya tidak mau anak saya salah
didik. Banyak orang yang menganggap saya terlalu idealis, akan
tetapi bagi saya kalau yang ideal itu dapat dikerjakan, mengapa
tidak? Bukankah sebagai anak Tuhan justru kita harus berusaha
mencapai yang ideal itu di tengah-tengah realita yang ada? Memang
kadang-kadang ada perasaan takut "cupet". Pekerjaan di rumah dan
tugas menjaga anak sering menyita waktu sehingga saya tidak
pernah punya waktu untuk menambah ilmu. Tapi saya cari jalan
keluar dengan cara berdiskusi dengan suami dan teman. Sehingga
saya tetap dapat memperoleh informasi dari buku-buku ataupun
jurnal yang mereka baca.

Mengenai waktu doa dan baca Alkitab yang sering kali tidak bisa
dilakukan seperti dulu lagi, kadang saya harus menerima dengan
sedih dan rasa bersalah. Selain menerima kenyataan ini, saya
juga terus berusaha mencari kesempatan di sela-sela kesibukan
yang ada. (SUS)

Hanya Anda dan Tuhan yang tahu hal terbaik yang dapat Anda berikan
untuk anak Anda. Karena itu, dasarilah segala pergumulan Anda dalam
rasa takut dan bersandar pada Tuhan Yesus. Hanya Tuhan Yesus yang
dapat menunjukkan yang terbaik dan yang unik untuk keluarga Anda.
Hiduplah dalam keberanian iman. "Do the best and He will do the
rest.

Sumber diambil dan diedit dari:
Judul buletin: Eunike
Penulis : tidak dicantumkan
Alamat situs : http://www.geocities.com/~eunike-net/01_10/01_05/antar.html
Artikel di atas juga dapat Anda baca di Situs C3I:
http://www.sabda.org/c3i/artikel/isi/?id=58&mulai=210

========== TELAGA ==========

Ringkasan tanya jawab dengan Pdt. Dr. Paul Gunadi dan Ibu Ester
Tjahja berikut ini menyampaikan prinsip-prinsip Alkitabiah berkenaan
dengan tugas seorang wanita dalam keluarga dan karier mereka.
Silakan menyimak, semoga menjadi berkat!

WANITA DAN KARIER

T : Apakah Alkitab memberikan prinsip-prinsip tentang haruskah
seorang wanita bekerja di luar rumah?

J : Ada. Kita harus MENETAPKAN PRIORITAS TUJUAN HIDUP KITA, ini
berlaku baik bagi perempuan maupun pria. Kita mesti memiliki
sistem prioritas yang jelas dan alkitabiah. Tuhan selalu
menekankan kepada manusia siapakah kita ini di dalam-Nya. Tuhan
tidak menekankan benda, materi, status, maupun jabatan kita.
Yang selalu Tuhan pentingkan adalah diri kita di dalam-Nya.
Firman Tuhan di Efesus 1:4 dan 5 berkata, "Sebab di dalam Dia
Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita
kudus dan tak bercela di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah
menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi
anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya." Jadi,
maksud Tuhan sangat jelas, kita dijadikan supaya kudus tak
bercela, sekali lagi, dengan sebuah kualitas. Ini hal yang
paling penting. Prioritas inilah yang seharusnya menjadi
prioritas kita sehingga kita tidak terjerat di dalam jabatan
maupun status. Ada orang yang mengejar-ngejar jabatan dan status
sehingga mengorbankan hal-hal yang lebih penting, yakni
keluarga dan dirinya sendiri.
------
T : Dalam menetapkan prioritas tujuan hidup itu, faktor apa yang
harus kita pertimbangkan?

J : Kita harus pikirkan keluarga kita, JANGAN SAMPAI MENGORBANKAN
KELUARGA. Misalnya, hanya karena ingin mendapatkan kedudukan
yang lebih baik, merelakan diri pergi ke luar kota, tiga bulan
baru pulang sekali. Akhirnya, keluarganya berantakan atau
bekerja dari pagi sampai malam. Kehidupannya juga lebih sering
berada di luar rumah dan masalah mulai muncul dalam keluarganya.
Kalau memang tidak ada uang dan harus bekerja seperti itu,
silakan, tapi itu berarti dalam satu kurun waktu saja, tidak
selama-lamanya begitu. Setelah keadaan lebih baik, sedapat
mungkin tidak usah melakukan semuanya itu, pentingkan keluarga
di rumah.
------
T : Prinsip selanjutnya?

J : TUHAN TIDAK MENETAPKAN SATU MODEL PERNIKAHAN dan ini penting
sekali. Kadang-kadang kita mempunyai prinsip yang terdengar
rohani, tapi sebetulnya tidak alkitabiah. Ada orang yang berkata
bahwa perempuan seharusnya di rumah, membesarkan anak-anak,
melayani suaminya, titik. Persoalannya, apakah sudah pasti itu
rencana Tuhan untuk masing-masing wanita atau istri. Justru
tidak, Alkitab justru mempunyai beberapa contoh kasus yang
berkebalikan dengan gambaran ini. Misalnya, dalam Amsal 31 yang
diidentikkan sebagai Amsal wanita bijak. Amsal ini
memperlihatkan peran wanita sebagai pekerja, bukan hanya ibu
rumah tangga (Amsal 31:13, 16 dan 24). Dari penjabaran ini dapat
kita simpulkan bahwa selain sebagai ibu rumah tangga yang baik,
ia adalah seorang pengusaha dan jenis usahanya pun beragam,
yaitu menjual bulu domba, rami, anggur, pakaian, ikat pinggang.
Istilah sekarang adalah "she is a business woman", bukan hanya
sebagai ibu rumah tangga. Contoh yang berbeda adalah Lidia,
seorang petobat pertama di Eropa, dari Filipi, Makedonia. Dia
adalah seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira. Hal ini
dicatat di Kisah Para Rasul 16:14. Jadi, tidak ada firman Tuhan
yang mengatakan istri diwajibkan berdiam diri di rumah dan suami
mencari nafkah di luar rumah. Model apakah yang akhirnya kita
terapkan untuk keluarga kita? Jawabannya adalah rancanglah model
yang paling sesuai dengan kondisi keluarga kita sendiri.
Acapkali pilihan antara karier dan keluarga bukan sebuah harga
mati yang harus diputuskan sekali dan selamanya. Pilihan antara
keduanya lebih merupakan sesuatu yang bersifat cair dan mengalir
secara temporer, tergantung situasi dan kebutuhannya. Misalnya,
ada waktunya bagi suami mengalah dan mendahulukan karier
istrinya sebab itulah tindakan yang paling bijak dan paling
sesuai bagi keluarga. Sebaliknya, kadang istrilah yang harus
mengalah mendahulukan kepentingan suami dan anak. Pada dasarnya,
prinsip yang berlaku di sini adalah ambillah keputusan yang
bijak, artinya melihat kembali kepentingan masing-masing anggota
keluarga pada masa itu sehingga kita tidak kaku.
------
T : Bagaimana dengan kekhawatiran suami kalau penghasilannya lebih
rendah dari penghasilan istrinya?

J : Seharusnya tidak menjadi masalah. Sebab kalau istri bisa membawa
diri dengan baik, dia tidak menguasai atau mendikte suaminya.
Uang itu dia simpan di tempat di mana suaminya pun bisa
memegangnya, itu tidak apa-apa. Memang ada suami yang merasa
terancam karena istrinya menghasilkan uang lebih besar daripada
dia. Tapi itu tidak perlu sebab memang kita tidak tahu rencana
Tuhan dan cara Tuhan memberkati kita. Adakalanya Tuhan
memberkati keluarga kita melalui kepala keluarga, tapi
kadang-kadang juga melalui istri. Bersukacitalah dan
bersyukurlah untuk hal itu; asal kita jangan menjadi benalu yang
terus-menerus menyedot uang istri, hidup foya-foya sebab istri
kita sekarang mempunyai banyak uang. Intinya adalah terbukalah,
Tuhan memiliki banyak cara memberkati kita, bisa melalui kita
tapi kadang-kadang melalui istri kita pula.
------
T : Apakah ada prinsip yang lain?

J : Berikutnya adalah PERHATIKAN DAN TERIMALAH KODRAT MASING-MASING.
Ada wanita yang lebih senang berkarier di luar rumah daripada di
dalam rumah. Bagi mereka kehidupan yang aktif dan dinamis bukan
saja menambah gairah hidup, tapi merupakan energi untuk hidup.
Mereka menjadi diri mereka yang terbaik dan menjadi ibu rumah
tangga yang lebih baik pula. Tapi ada sebagian wanita yang
senang berada di dalam rumah dan bagi mereka aktualisasi diri
justru terletak pada peran di dalam rumah. Sebagai istri,
sebagai ibu rumah tangga, mereka bisa mengasuh anak, mengatur
rumah tangga. Itu juga pilihan yang baik kalau itu memang
menjadi tujuan dan makna hidup mereka. Bagi mereka pencapaian
tertinggi adalah melihat suami bahagia, anak-anak bertumbuh
sehat dan kuat. Intinya adalah siapa pun yang memilih keputusan
ini jangan merasa minder karena diam di rumah tidak identik
dengan bodoh atau terbelakang.
------
T : Memang ada beberapa istri yang mungkin kurang yakin atau percaya
diri. Kalau ditanya pekerjaannya apa, dia selalu menjawab ikut
suami. Sebenarnya, dia bisa mengatakan bahwa dia adalah ibu
rumah tangga. Bagaimana dengan kasus seperti ini?

J : Betul sekali. Ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan karena
di rumah dia harus mengurus anak sampai malam, lebih berat
daripada pekerjaan di luar yang hanya sampai sore saja. Jadi,
ibu rumah tangga pun sebuah pekerjaan sama-sama terhormatnya.
Bayangkan jika suami tidak mempunyai istri, tetapi ada
anak-anak, bukankah dia harus meminta dan membayar orang untuk
mengurus anak-anaknya dan rumah tangganya? Jadi, intinya adalah
kita harus melihat dan menerima kodrat kita, jangan dibandingkan
dengan orang lain. Demikian pula dengan suami, jangan
membandingkan istrinya dengan orang lain, karena setiap orang
berbeda. Dan kita memang harus menerimanya tanpa merasa minder
kalau tidak bisa melakukan yang dapat dilakukan orang lain.
------
T : Apakah masih ada prinsip yang lain lagi?

J : Prinsip terakhir adalah GANTILAH APA YANG TELAH KITA AMBIL DARI
KELUARGA. Maksudnya, salah satu fakta dalam hidup yang tidak
dapat kita tawar adalah kita tak dapat selalu menyenangkan dan
memenangkan semua pihak. Hampir dapat dipastikan setiap
keputusan yang kita ambil akan berdampak positif sekaligus
negatif; menguntungkan satu pihak sekaligus merugikan pihak yang
lain. Demikian pula dengan pilihan mengembangkan karier di luar
rumah, tidak bisa tidak, waktu dan keberadaan kita di dalam
rumah akan terbatasi. Ini berarti kita mengambil sesuatu dari
dalam rumah untuk kepentingan di luar rumah. Jadi, jika ini yang
harus kita lakukan, kita mesti merencanakan dan mempersiapkan
segalanya secepat mungkin. Misalnya, waktu yang kita berikan
untuk keluarga haruslah menjadi waktu yang eksklusif. Maksudnya,
di luar kehadiran orang lain dan tidak diisi dengan urusan luar
rumah. Satu contoh kegagalan dalam menciptakan waktu yang
eksklusif, misalnya kita dapat menyisihkan satu hari dalam
seminggu untuk keluarga, namun setiap kali kita pergi bersama
dengan keluarga, kita pun mengajak kerabat atau teman untuk
bergabung. Atau secara fisik kita bersama keluarga, namun
telinga dan mulut kita untuk orang lain yang menghubungi kita
lewat telepon atau ponsel. Alhasil yang terjadi adalah kendati
bersama keluarga, tapi sesungguhnya kita bersama orang lain.
Jadi, ingatlah waktu yang eksklusif menuntut kita bersikap tegas
terhadap gangguan pihak luar.
------
T : Kadang-kadang sebagai wanita karier justru banyak waktu
dihabiskan dengan orang lain dan waktu dengan suami berkurang,
mungkin kencan dengan suami diperlukan juga dalam keadaan ini?

J : Tepat sekali, waktu kencan yang benar-benar kencan, benar-benar
pergi berdua atau pergi dengan keluarga; tidak menerima telepon
dari orang lain, kecuali dari perusahaan saja. Anak maupun suami
akan sangat berterima kasih karena diutamakan. Ini yang penting,
inilah yang dimaksud dengan prinsip menggantikan. Berikutnya,
tentang menggantikan berkaitan dengan anak, yaitu kepada
siapakah kita menyerahkan tanggung jawab pengawasan anak-anak
sewaktu kita tidak berada di rumah. Ada dua kriteria, yaitu aman
dan nyaman. Siapa pun yang bertanggung jawab menjaga anak,
haruslah menyediakan lingkungan yang aman sekaligus memberikan
perhatian yang memadai pada anak, dan melindunginya dari bahaya.
Jangan menyerahkan tanggung jawab mengurus anak kepada orang
yang tidak memedulikan keamanan dirinya sendiri atau orang lain.
Juga jangan menyerahkan anak kepada orang yang tidak dapat
mengurus dirinya sendiri. Jika ia tidak dapat mengurus dirinya
sendiri, bagaimana mungkin dia sanggup mengurus orang lain?
Maksud dari `nyaman` ialah orang itu harus bisa memberi suasana
nyaman kepada anak lewat kasih sayang dan kesabarannya. Jangan
sampai anak merasa ketakutan atau tertekan ditinggal bersama
seseorang yang tidak sabar dan ketus. Kita mesti peka
mendengarkan suara anak dan mengutamakan mereka di atas rasa
sungkan. Misalnya, kadang-kadang kita sungkan kepada orang tua
sendiri yang bersedia atau memaksa menjaga anak kita.
Perhatikanlah reaksi anak dan dengarkanlah isi hatinya, jangan
sampai masa ditinggal orang tua menjadi masa penderitaan bagi
anak.
------
T : Adakah firman Tuhan untuk menyimpulkan dan melandasinya?

J : Ibrani 13:5, "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah
dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman:
`Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-
kali tidak akan meninggalkan engkau.`" Sekali lagi Tuhan
menetapkan prioritas, bukan uang, bukan status, dan sebagainya;
jangan menjadi hamba semua itu. Tuhan meminta kita untuk
mencukupkan hidup kita dengan apa yang telah Ia berikan sebab
Tuhan akan memelihara kita. Jadi sekali lagi, prioritaskan
keluarga. Hal-hal lainnya itu nomor dua yang akan dicukupi-Nya.
Yang penting kita tidak merugikan keluarga kita.

Sumber:
[[Sajian di atas, kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. #183B
yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan.
-- Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat
e-Mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)xc.org>
atau: < TELAGA(at)sabda.org > ]]
==>http://www.telaga.org/transkrip.php?wanita_karier_dan_keluarga.htm

========== TANYA JAWAB KONSELING ==========

ISTRI YANG BEKERJA DI LUAR RUMAH

Pertanyaan:
===========
Bagaimana pendapat Bapak tentang tren abad ini di mana banyak istri
atau kaum ibu yang bekerja di luar rumah? Apa dampaknya pada
keluarga?

Jawaban:
========
Ada dua pandangan yang saling bertentangan tentang istri atau ibu
karier ini. Pertama, ibu yang berkarier adalah ibu yang terlalu
lelah untuk mengemban tanggung jawabnya di rumah secara penuh.
Kedua, ibu yang berkarier adalah ibu yang segar sehingga lebih
bertenaga memikul tanggung jawabnya di rumah. The APA Monitor,
November 1995 membahas masalah ini dalam artikel utamanya yang
sebenarnya merupakan laporan hasil pertemuan yang diadakan di
Washington, D.C., 14-16 September 1996. Ulf Lundberg, seorang dosen
psikologi di Universitas Stockholm, mempresentasikan hasil
penelitiannya di dalam pertemuan tersebut. Dr. Lundberg menemukan
bahwa di kalangan pasangan suami-istri yang belum mempunyai anak,
masing-masing bekerja sekitar enam puluh jam per minggu. Namun,
begitu memiliki anak, beban kerja mereka langsung bertambah.
Rata-rata di dalam keluarga dengan tiga anak, seorang wanita harus
mencurahkan sekitar sembilan puluh jam per minggu untuk pekerjaan
dan tugas rumah tangganya. Sedangkan seorang pria yang berada di
dalam situasi yang sama hanya menghabiskan enam puluh jam per
minggu. Akibatnya, begitu tiba di rumah, seorang wanita harus
langsung terjun ke dalam kegiatan rumah tangga serta mengurus
anak-anaknya. Tidak dapat tidak, tekanan yang harus ditanggungnya
menjadi lebih besar daripada tekanan yang dipikul oleh pria.

Maafkan saya apabila komentar saya ini terdengar kolot dan tidak
sensitif. Menurut hemat saya, pada waktu anak-anak masih di bawah
usia dua belas, sebaiknya wanita memberikan mayoritas dari waktunya
untuk mengurus rumah tangga. Tugas membesarkan anak kecil bukanlah
perkara mudah dan menyita banyak waktu. Jadi, sangatlah sukar untuk
memelihara keseimbangan antara karier dan tugas sebagai ibu.
Biasanya kita harus mengorbankan salah satunya dan tidak bisa
memenangkan keduanya. Namun demikian, saya pun menyadari betapa
besar pengaruh bekerja di luar rumah setelah terkurung di dalam
rumah selama berhari-hari. Apalagi bagi kaum wanita yang sudah
menempuh pendidikan yang tinggi, tidaklah mudah bagi mereka untuk
membiasakan diri diam di rumah. Mengurus anak di rumah bisa
mengakibatkan stres tersendiri dan dapat menimbulkan kejenuhan,
sedangkan bekerja di luar berpotensi memberikan tantangan yang
menggairahkan.

Saya tidak mengharuskan wanita untuk diam di rumah sebab saya yakin,
pasti ada pertimbangan-pertimbangan khusus yang saya tidak ketahui.
Saya hanya melihat masalah ini dari sudut kepentingan anak. Saya
kira pengorbanan diri memang dibutuhkan di sini.

Sumber diambil dari:
Judul buletin: Parakaleo, Edisi Januari - Maret 1996
Penulis : Dr. Paul Gunadi
Penerbit : Dept. Konseling STTRI Jakarta, 1996
Sumber elektronik: http://c3i.sabda.org/kategori/keluarga/isi/?id=299&mulai=30

========== INFO ==========

RENCANA PELUNCURAN PUBLIKASI BARU YLSA

Sebagai gebrakan awal tahun 2007, YLSA berencana untuk menerbitkan
satu publikasi mingguan baru, yaitu publikasi yang akan berisi
tentang kesaksian. Tim Redaksi sudah dibentuk dan saat ini sedang
menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk penerbitan publikasi
ini. Harapan kami, melalui publikasi kesaksian ini banyak orang
terinspirasi oleh kasih Tuhan dan menjadi berkat untuk kemuliaan
nama-Nya. Bagi Anda yang tertarik untuk berlangganan publikasi ini
bisa mulai mendaftarkan diri dengan mengirimkan permintaan
berlangganan ke alamat:

< staf-kesaksian(at)sabda.org >

============================== e-KONSEL ==============================
STAF REDAKSI e-Konsel
Ratri, Evie, Raka
PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS
Yayasan Lembaga SABDA
INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR
Sistem Network I-KAN
Copyright(c) 2006 oleh YLSA
http://www.sabda.org/ylsa/
http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

======================================================================
Anda punya masalah/perlu konseling? masalah-konsel(at)sabda.org
Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll.
dapat dikirimkan ke alamat: owner-i-kan-konsel(at)xc.org
Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
Berhenti : unsubscribe-i-kan-konsel(at)xc.org
Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel
ARSIP : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/
Situs C3I : http://c3i.sabda.org/
======================================================================




© 1999-2002 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi atau non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan SABDA.org ( sabda.org/ ) sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org

OK,
Yang Mencintai kalian sepenuhnya,
love and pray,
Administrator GODOPRODUCTION, CO, LTD

Thursday, December 07, 2006

atasi kesepian bersama DIA

Berikut cara atasi kesepian dari renungan WASIAT GKI beberapa waktu yl: Answer to life's difficult questions-Ch 12 Richard Warren);

MENGATASI KESEPIAN
Ada orang yang mengatasi kesepian dengan menghabiskan waktu dan energi untuk bekerja. Ada yang mencari hiburan-hiburan di luar rumah mereka. Ada yang lari ke alkohol atau obat terlarang. Sedang yang lain berfantasi dengan dirinya sendiri dengan membaca novel atau melihat TV.

Paulus melakukan empat hal untuk melawan kesepian yaitu: memanfaatkan (utilize), meminimalakan(minimize), mengenali (recognize), berbela rasa (emphatie)

Memanfaatkan-->memanfaatkan waktu anda dengan bijak. Lakukan yang terbaik dalam situasi terburukmu. Hadapilah dengan berpikir untuk menciptakan jalan untuk mengambil keuntungan dari waktu peralihan itu.

Meminimalkan-->memperkecila dampak luka karena kesendirian/ kesepian. Jangan membesar-besarkan dan jangan menceritakan berulang ulang sumber kesepian anda. Jangan biarkan kesendirian menimbulkan luka yang berkembang dalam dirimu (2Tim4:16)

Mengenali-->mengatasi kesendirian / kesepian dengan menyadari kehadiran Allah. Paulus berkata,"Tuhan berdiri disampingku dan memberi kekuatan." (ay.17) Yesus berkata:"Aku tak akan meninggalkan kamu seperti anak yatim piatu"(yoh 14:18). Allah berfirman "Aku sekali kali tidak akan meninggalkan kamu, Aku tidak akan pernah meninggalkan kami"(Ibr. 13:5)

Berbela rasa atau memberi empati-->jangan memfokuskan perhatian pada diri sendiri, tetapi berikan juga perhatian kepada orang lain. Ituu yang dilakukan Paulus (2Tim4:17) Paulus telah kesepian diakhir hidupnya, namun tidak akan lupa tujuan hidupnya yaitu menolong orang lain. Kasih adalah penawar atau pencegah kesepian.

Anak Allah sangat memahami rasa kesepian. Ketika Dia ditaman getsemani, semua teman-temannya tertidur lelap. Ketika para laskar datang menyiksa Yesus, semua muridNya melarikan diri. Ketika Dia sedang diadili, Petrus menyangkal-Nya tiga kali. Ketika Dia memikul dosa-dosa dunia ini diatas salib, Dia berteriak "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"(Mat. 15:34).

Yesus sungguh mengerti rasa kesepian. Karena itu, Dia berjkata kepadamu:"" Aku mengerti perasaanmu. Aku peduli padamu, dan ingin menolongmu." Ijinkanlah Dia menolongmu mengalahkan kesepianmu, pada saat Anda datang pada-Nya dalam doa, dan di saat Anda menolong orang yang disekitarmu yang sedang kesepian.
dari: Answer to life's difficult questions-Ch 12 Richard Warren