Wednesday, 12 July 2006 01:19 [kompas]
--------------------------------------------------------------------------------
Berkomunikasi Dengan Anak
Oleh: Misni Irawati
Guru TK Swadaya Banjarmasin
Hasil penelitian selama ini, penyebab utama anak melakukan mogok bicara atau bertingkah bandel dikarenakan kesalahan orangtua dalam berkomunikasi.
Diam di sini ,jangan ke mana-mana! Ingat ya, mama tidak mau kalau mama selesai kamu sudah gak ada! Atau kata apa lagi yang biasa diucapkan orangtua dalam memberikan perintah dan larangan kepada anaknya tanpa memberikan kesempatan untuk bicara atau menyanggah. Begitulah kita dengan egoisnya selalu melakukan itu. Tidak jarang kata perintah kita ucapkan pada anak tanpa sadar, bahkan beribu kali kita mengucapkannya pada setiap kegiatan.
Tahukah, perintah harus ini, harus itu, tetap di situ atau apalah, dapat mempengaruhi hubungan antara orangtua dan anak? Terlebih dalam menjalin komunikasi antara orangtua dan anak usia dini. Pernahkan kita mengalami anak usia tiga tahun melakukan mogok bicara pada orangtuanya? Atau anak seusia itu memaki ibunya dengan bahasa orang dewasa? Tahukah apa penyebabnya.
Hasil penelitian selama ini, penyebab utama anak melakukan mogok bicara atau bertingkah bandel dikarenakan kesalahan orangtua dalam berkomunikasi. Orangtua terus-terusan memberikan perintah dan larangan dengan gaya yang khas membuat anak muak menghadapinya.
Dalam teori pendidikan modern dikenal 12 gaya popular yang harus dihindari orangtua dan guru, dalam menjalin komunikasi terhadap anak dan remaja. Larangan ini berlanjut sampai anak menjadi dewasa, baik dalam waktu pembelajaran di sekolah maupun di rumah.
Kebanyakan orangtua karena adanya rasa memiliki sepenuhnya terhadap diri anak, membuat lupa dalam bersikap dan berbicara bahwa mereka melakukan kesalahan dan menyakiti perasaan anak. Sikap dan gaya bicara dimaksud yaitu: memerintah; menyalahkan atau memvonis; meremehkan; membandingkan; mencap atau memberikan label; mengancam; memberi nasihat; membohongi; menghibur; mengeritik; menyindir; menganalisis.
Kedua belas gaya itu merupakan penghalang utama dalam menjalin komunikasi positif antara orangtua dengan anak. Padahal dapat dipastikan, cara berkomonikasi begitu yang selama ini diberikan orangtua lebih-lebih pendidik --walau tidak semua pendidik melakukannya. Coba perhatikan, sekarang banyak terjadi kasus anak kecil melakukan hal di luar kebiasaannya; bunuh diri misalnya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Salah satu faktor penyebabnya adalah kesalahan gaya berkomunikasi tersebut.
Gaya memerintah adalah sikap yang menjadi pilihan pertama dilakukan orangtua atau guru. Tujuannya agar masalah cepat selesai dengan harapan anak menjadi patuh, karena tidak boleh membantah dan tidak ada pilihan. Kata yang digunakan adalah ‘cepat kerjakan’, ‘jangan’, ‘tidak’ dan ‘harus’. Padahal kata jangan, tidak dan harus itu sangat bertentangan dengan jiwa anak yang selalu ingin tahu dan tak ingin dilarang. Akibatnya anak hanya patuh dan tunduk di depan orangtua atau guru, sebaliknya bila jauh mereka menjadi brutal.
Sikap menyalahkan atau memvonis merupakan kebiasaan jelek kedua yang seharusnya tidak boleh dilakukan orangtua dan guru. Memang tujuan orangtua menyalahkan adalah memberitahu kesalahan anak. Tetapi dengan cara menyalahkan atau memvonis anak terlebih di depan temannya, membuat harga diri anak hancur. Anak tidak pernah benar, tidak pernah baik. Terlebih bila dibarengi dengan kata-kata yang membuat anak semakin tidak berharga, karena anak merasa tidak pernah melakukan hal yang benar. Akibatnya anak menjadi rendah diri dan pendendam.
Sikap meremehkan terhadap anak merupakan hal ketiga yang tidak boleh dilakukan orangtua atau guru. Dengan meremehkan sama artinya menyatakan orangtua yang lebih tahu, bisa dan hebat. Hal ini membuat anak merasa tidak berharga atau tidak mampu. Apalagi biasanya kalimat yang terucap dari orangtua adalah cemoohan. Seperti ‘alah’, payah, dan kata yang bersifat meremehkan kemampuan anak. Akibatnya anak menjadi enggan melakukan hal baru, mencoba sesuatu dan menjadi pasif serta acuh tak acuh.
Kebiasaan membandingkan antara anak yang satu dengan lainnya adalah hal keempat yang patut dihindari. Walaupun sebenarnya tujuan orangtua atau guru membandingkan antara anak yang satu dan lainnya adalah memotivasi anak untuk menjadi lebih baik. Namun pesan yang ditangkap, justru anak merasa orangtuanya pilih kasih.
Kebiasaan orangtua atau guru mencap atau memberi label pada anak adalah hal yang sama sekali tidak boleh dilakukan, karena sangat fatal akibatnya bagi anak. Tujuan orangtua atau guru mencap adalah memberitahukan kekurangan anak untuk diubah. Tetapi pesan yang ditangkap anak adalah mematikan segala kreativitasnya.
Biasanya orangtua memberikan label dengan sebutan yang sangat menyakitkan hati anak seperti si lamban, si dungu dan banyak lagi sebutan yang membuat anak merasa muak karenanya. Pada akhirnya mereka menjadi pembrontak, seakan-akan mereka berkata bunuh saja saya.
Mengancam anak harus dihindari orangtua dan guru dalam berkomunikasi atau bertindak. Tujuan memberikan ancaman agar anak menjadi penurut dan patuh. Tetapi kesan yang didapat anak adalah kecemasan dan rasa takut yang sangat dalam. Selain itu, dengan ancaman mematikan jiwa kreativitas anak. Karena dalam setiap gerak dan aktivitasnya, anak selalu dihantui dengan kata: "Awas kalau ...!" Hasil yang didapat, bukannya anak menjadi patuh tetapi malah menjadi pesimis dan pasif.
Memberikan nasihat pada anak perlu dihindari. Memang, tujuan menasihati adalah memberi tahu baik dan buruk tentang sesuatu pada anak. Tetapi pesan yang diterima anak adalah orangtua sok tahu, bawel dan ceriwis. Terlebih dalam menyampaikan nasihat dengan kalimat panjang lebar, membuat anak semakin dongkol. Di depan kita anak akan manggut-manggut, tetapi dalam hati mereka --satu kata yang diucapkan orangtua-- menjawab sepuluh kata.
Berbohong adalah hal selanjutnya yang harus dihindari dan tidak boleh dilakukan. Jangan pernah sekali-kali berbohong dalam berkomunikasi dengan anak, karena hal itu akan menjadi kebiasaan anak juga untuk berbohong. Walaupun tujuan orangtua berbohong adalah mempermudah masalah. Orangtua tidak mau ambil pusing untuk menjelaskan sesuatu hal yang sebenarnya. Tetapi pesan yang diterima anak adalah ketidakpercaayaan. Kebiasaan berbohong terlebih pada anak kecil, membuat anak tidak memiliki sifat jujur. Selain itu, anak nantinya menjadi pembohong besar.
Kebiasaan menghibur anak juga harus dihindari. Karena, anak tidak mendapat kesempatan merasakan bagaimana rasa sedih, jengkel dan hal lain yang mengembangkan jiwa emosional anak. Memang tujuan orangtua atau guru menghibur adalah membuat anak tegar. Namun jika itu dilakukan terus-menerus, anak menjadi ketergantungan dan terlalu cengeng bahkan mentalnya menjadi lembek. Kesan yang ditangkap anak, ada tempat untuk bergantung.
Kebiasaan memberikan kritik kepada anak sebaiknya dihindari dalam menjaga kelancaran komunikasi antara orangtua dan anak. Orangtua memberikan kritik untuk memperbaiki suatu kekeliruan, tetapi kesan anak menganggap dirinya selalu salah. Apabila hal itu terjadi, maka sampai dewasa anak selalu dihantui rasa takut karena salah.
Sindiran terhadap anak untuk memotivasi anak agar berbuat lebih baik, juga merupakan hal buruk yang harus dihindari. Anak merasa sangat direndahkan dan sakit hati, apabila mereka salah kemudian orangtua memberikan sindiran terhadap dirinya.
Hal terakhir yang harus dihindari orangtua dan guru adalah menganalisis anak. Orangtua memberikan analisis dengan tujuan mencari penyebab mengapa anak melakukan suatu kesalahan. Tetapi anak menerimanya berbeda, mereka beranggapan orangtua mereka sok pintar.
Jadi, dalam hal ini orangtua yang sekaligus guru bagi anak usia dini hendaknya jangan hanya memberikan bentuk komunikasi yang sebenarnya membuat kerugian bagi anak baik di masa pertumbuhan maupun akan datang. Tetapi juga hendaknya memberikan cara dan bahasa yang baik dalam berkomunikasi dengan mereka. Karena anak usia dini merupakan aset berharga bagi bangsa, hendaknya benar- benar diperhatikan dan diutamakan terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan dan keselamatannya
taken from: http://www.indomedia.com/bpost/072006/12/opini/opini1.htm diakses 13 July 2006 jam 11.01 an ...
Wednesday, July 12, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment