Wednesday, February 21, 2007

kesempatan punya harta++? tatalayankan kesempatan dari Dia

Rabu, 21 Februari 2007
Lukas 16:1-9
Judul: Kesempatan Harta dapat menjadi berkat, juga bisa menjadi kutuk. Tergantung bagaimana menggunakannya: menjadikannya pemuas keinginan pribadi atau sebagai sumber untuk melayani sesama. Inilah yang kita pelajari sebagai topik utama dalam pasal 16 ini, yakni tentang penggunaan harta.
Bendahara, dalam kisah ini, memiliki reputasi yang dapat mengancam kedudukannya, terutama ketika tuannya meminta laporan keuangan. Kuatir menghadapi ancaman pemecatan, ia putar otak, mencari cara agar bisa memperoleh bantuan di kemudian hari. Dengan cerdik ia mengambil hati orang yang berhutang kepada majikannya, dengan mengurangi jumlah hutang orang tersebut (5-7). Mungkin si bendahara melakukannya dengan mengurangi jumlah bunga pinjaman orang tersebut yang seharusnya menjadi komisi untuk dia. Dengan apa yang telah dilakukannya, si bendahara berharap telah menanam budi sehingga suatu saat bisa memperoleh bantuan dari orang tersebut. Bendahara yang tidak jujur ini telah belajar dari kegagalannya. Ia mengorbankan miliknya dan kemudian memberikannya pada orang lain supaya ia dapat mengambil keuntungan dari pemberian itu dikemudian hari. Cerdik bukan? Itulah yang dipuji Yesus dari bendahara ini, bila Dia membandingkannya dengan anak-anak terang (8). Meskipun mungkin saja anak-anak dunia menggunakan harta untuk hal-hal yang tidak benar, mereka tetap memikirkan keuntungan semaksimal mungkin yang dapat diberikan harta mereka.
Seharusnyalah kita bijak dalam memaksimalkan penggunaan harta, yang sudah dipercayakan pada kita. Ingatlah bahwa harta tidak dapat dibawa mati. Harta hanya bernilai selama kita hidup saja. Oleh sebab itu jangan gunakan harta hanya untuk kepentingan diri sendiri, gunakanlah juga untuk kemaslahatan orang lain. Karena memiliki harta berarti juga menyandang tugas penatalayanan, maka kita harus memikirkan bagaimana menggunakan harta dalam pelayanan untuk memuliakan Allah.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/02/21/

Sunday, February 18, 2007

[kasihsepanjangmasa]jiwa

Senin, 19 Februari 2007
Lukas 15:1-10
Judul: Gembala yang baik Kita tidak dapat menghindar dari kritik. Apapun yang kita lakukan bisa mengundang kritik, entahkah itu kritik yang membangun atau yang menjatuhkan. Bahkan jika kita diam sekalipun, pasti akan ada kritik yang terlontar. Tidak heran, jika kritik dapat mengubah orang menjadi baik, walau tidak sedikit juga yang berakibat buruk pada seseorang.
Pada waktu itu, Yesus dikritik oleh orang Farisi dan ahli Taurat karena "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka" (2). Bagi mereka, berdekatan dengan orang berdosa akan menyebabkan mereka ketularan tidak `bersih\'. Yesus pun merespons dengan trio perumpamaan: domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang. Dalam perumpamaan yang pertama, si gembala menemukan bahwa ada satu ekor domba yang hilang. Lalu ia mencari domba yang hilang itu sampai ia menemukannya (4). Tidak sedikit pun ia menyalahkan domba yang hilang itu (berlawanan dengan sikap ahli Taurat dan orang Farisi terhadap orang berdosa). Yang Yesus perlihatkan di sini adalah mencari yang hilang, menemukan dan merayakan penemuan itu (6). Begitu pula dalam perumpamaan tentang seorang wanita yang kehilangan satu dari sepuluh dirham yang dimilikinya. Begitu berharganya dirham itu sehingga ia harus bersusah payah mencarinya sampai akhirnya menemukannya. Begitu gembiranya, hingga ia mengajak sahabat dan tetangganya untuk merayakan penemuan itu.
Kedua perumpamaan ini memperlihatkan bahwa Allah adalah Bapa yang aktif mencari orang yang "hilang" dan bersukacita ketika mereka ditemukan. Oleh sebab itulah Dia mengutus Kristus (Mat. 10:6; 15:24, bdk. Luk. 4:18-19). Maka kita, murid-murid-Nya, seharusnya memiliki belas kasih yang sama seperti yang Guru kita miliki. Mari buka mata kita bagi sekeliling kita untuk memperhatikan mereka yang terhilang. Temui mereka dan kabarkan Berita Kesukaan itu! "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Luk. 19:10)

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/02/19/

pujian pembangkit semangat: ...Jadilah jawaban bagi yang memerlukan NYA ... hari ini...

Saturday, February 17, 2007

mengikut DIA: mau dimuridkan & 'bayar harga'

Lukas 14:25-35
Judul: Syarat ikut Yesus Seorang tokoh masyarakat biasanya akan senang memiliki pengikut. Apalagi kalau ia berkarier di bidang politik. Banyaknya pengikut akan menunjang kemajuan kariernya.
Yesus saat itu diikuti banyak orang. Tetapi Ia tahu bahwa itu bukan karena mereka memiliki komitmen untuk mengikut Dia. Mungkin saja hanya karena Yesus sedang populer saat itu. Oleh karena itu Yesus berkata pada mereka bahwa jika mereka tidak "membenci" anggota keluarganya, bahkan dirinya sendiri, mereka tidak dapat menjadi murid-Nya (26). Yesus bukan bermaksud agar pengikut-Nya tidak menghargai keluarga mereka. Yang Ia maksudkan adalah tidak ada ikatan apapun, yang boleh melebihi kesetiaan dan ketaatan orang pada Yesus. Dialah yang harus menjadi nomor satu! Tidak ada tempat buat yang lain. Hanya jika Dia menjadi prioritas utama dalam hidup seseorang, barulah dia dapat menjadi murid Yesus. Itulah sebabnya mereka harus berpikir masak-masak, karena untuk itu harus ada keseriusan dan komitmen. Sebab mengikut Yesus bukan hanya bicara masalah sekarang, tetapi juga mencakup keputusan dalam hidup di masa depan. Oleh karena itu, jika orang tidak memiliki kesungguhan hati, sebaiknya jangan mulai! Jangan maju ke medan perang, jika tidak yakin akan menang.
Mengikut Tuhan Yesus memang punya konsekuensi. Mungkin kita harus mengambil keputusan yang sangat berbeda dengan dunia di sekitar kita, keluarga akan memusuhi kita, kita akan dikucilkan di lingkungan kita, atau tidak memperoleh keuntungan karena kejujuran kita. Kita memang harus sadari bahwa menjadi murid Tuhan berarti siap menempatkan Yesus di atas segala kepentingan pribadi, keluarga atau karier. Ikut Yesus berarti memikul salib yang bermakna mematikan keakuan dan keinginan pribadi (27). Hanya yang setia melakukan kehendak Tuhan dan teguh imanlah yang akan disebut murid Tuhan.
Camkan: "... karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar." (Filipi 2:12)

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/02/18/

Tuesday, February 13, 2007

Sekarang waktunya! Mengasihi DIA lebih lagi...

Rabu, 14 Februari 2007
Lukas 13:22-35
Judul: Sekarang waktunya! Free pass adalah tiket bebas masuk untuk menonton film di bioskop. Tiket ini diberikan kepada orang-orang yang bekerja atau memiliki saham di bioskop tersebut.
Sebagai keturunan Abraham, orang Israel mengira bahwa fakta itu merupakan jaminan untuk memperoleh free pass guna masuk ke dalam Kerajaan Surga. Padahal Yohanes pernah memperingatkan mereka akan hal ini (bdk. Luk. 3:7-8). Yesus juga menyanggah pendapat itu melalui perumpamaan tentang pintu yang sempit. Dalam perumpamaan ini kelihatannya seorang Tuan Rumah sedang mengadakan perjamuan. Namun tidak mudah untuk masuk ke dalam karena hanya ada satu pintu sempit, sementara banyak orang yang akan masuk (29). Itu sebabnya tiap orang harus berjuang keras untuk masuk. Tidak ada seorang pun yang mendapatkan free-pass. Bukan hanya itu masalahnya. Pintu akan segera ditutup. Mungkin perjamuan akan segera dimulai. Itu berarti tertutupnya kesempatan untuk masuk, siapapun dia dan bagaimanapun usahanya untuk masuk! Juga meskipun mereka berupaya mengetok pintu dan mengaku pernah bersama-sama dengan Si Tuan Rumah (25-27). Itu sebabnya tiap orang harus bertindak cepat! Perumpamaan ini adalah pesan yang Yesus ingin sampaikan pada para pendengar-Nya: waktu untuk bertobat dan menerima Yesus sungguh singkat!
Pesan ini juga merupakan peringatan bagi kita. Bertobatlah dan masuklah ke dalam Kerajaan Allah segera, selama pintu masih terbuka. Yesus berkata bahwa kita harus berusaha keras untuk masuk karena belum tentu ada kesempatan lain. Ini bukan berarti bahwa keselamatan dapat diperoleh dengan usaha manusia, tetapi karena waktunya begitu singkat. Bagaikan hadiah yang sedang diperebutkan banyak orang, kita harus menggapainya. Kita tidak bisa bersikap pasif! Segera atau kita akan kehilangan! Karena itu, jangan tunda! Jangan sampai terlambat! Inilah waktunya untuk mengambil keputusan! Jangan sampai kesempatan ditutup dan kita akan menyesal selama-lamanya.

Taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/02/14/

...Selamat Hari Kasih Sayang...
...GBU all...

Monday, February 12, 2007

[karuniaNYA]keselamatan

Selasa, 13 Februari 2007

Lukas 13:10-21
Judul: Keselamatan bagi siapa saja Hari Sabat merupakan hari yang sakral bagi orang Yahudi. Begitu berlebihan arti kesakralan yang diberikan pada hari Sabat sehingga tidak seorang pun diperbolehkan melakukan sesuatu pada hari itu, sekalipun untuk menyembuhkan orang lain (14). Bahkan sampai mengakibatkan keterbelengguan rohani di kalangan umat Allah.

Oleh sebab itulah Yesus memberikan wawasan berbeda tentang hari Sabat. Pada hari itu, Ia menyembuhkan seorang perempuan yang bungkuk punggungnya karena dirasuki roh selama delapan belas tahun. Akibat tindakan Yesus, kepala rumah ibadat kemudian melontarkan reaksi negatif (14). Sama sekali tidak terbit sukacita dari dalam hatinya atas karya Allah dalam diri perempuan itu. Jawaban Kristus kemudian kepada kepala rumah ibadat menekankan kata "melepaskan dan dilepaskan" (15-16). Artinya hari Sabat ada untuk melepaskan dan bukan untuk mengikat, misalnya melepaskan orang berdosa, dan bukannya membuat orang jadi berdosa. Yesus menegaskan, jika ternak mereka saja bisa mendapatkan perhatian pada hari Sabat, bukankah sesama mereka jauh lebih layak untuk itu? Bukankah hari Sabat justru merupakan hari yang tepat untuk melepaskan ikatan Iblis atas diri perempuan itu dan dengan demikian menyatakan kehadiran Kerajaan Allah yang berkuasa?

Kuasa kehadiran Kerajaan Allah jugalah yang ingin digambarkan oleh Yesus melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi. Tampaknya kecil tapi pada suatu waktu nanti akan menembus dan mempengaruhi dunia. Tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menghentikan karya Kerajaan Allah, yang juga akan menjadi tempat bernaung bagi banyak orang. Maka kita seharusnya bukan bertindak seperti kepala rumah ibadat yang menghalangi orang untuk mengalami kuasa Kerajaan Allah itu. Kiranya kita justru menjadi agen-agen pembaruan yang memperluas kesempatan kepada banyak orang untuk mengenal dan mengalami kuasa Kerajaan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/02/13/

Monday, February 05, 2007

keperluan berpikir soal harga yang harus dibayar: contoh tokoh Paulus...

Senin, 5 Februari 2007

Bacaan Setahun : Keluaran 36-38; Matius 23:1-22
Nats : Siapa bijak, mengambil hati orang (Ams. 11:30)

HARGA SEBUAH JIWA
Bacaan : Matius 16:24-28


Menurut sebuah artikel dalam Wall Street Journal, Hemant Mehta ingin mencari tahu apakah ia "kehilangan sesuatu" sebagai seorang ateis. Maka, lulusan DePaul University ini mengajukan sebuah penawaran melalui situs lelang eBay: Ia akan datang ke gereja selama satu jam untuk setiap 10 dolar uang yang diberikan penawar tertinggi. Seorang mantan pendeta penginjil memenangkan lelang tersebut dengan tawaran sebesar 504 dolar.

Berapa harga yang mau Anda bayar untuk kesempatan memperkenalkan Kristus kepada satu orang tidak percaya? Paulus memberi jauh lebih besar daripada 504 dolar ketika ia berjuang mengabarkan Injil kepada orang-orang yang belum pernah mendengar tentang Yesus Kristus. Ia melakukan perjalanan yang jauh dan sulit berkeliling dunia. Dalam catatan yang menarik, ia menceritakan berbagai pengalamannya: karam kapal, dipenjara, didera, dilempari batu, dipukuli, kelelahan, kelaparan, kedinginan, dan terancam bahaya maut (2 Kor. 11:23-28).

Dalam usaha mengabarkan Injil selama 2.000 tahun, orang-orang pemberani telah meninggalkan kampung halaman untuk me-ngabarkan Kristus di tempat-tempat terpencil, primitif, dan berbaha-ya. Banyak yang kehilangan nyawa; atau menderita siksaan. Di berbagai tempat di dunia saat ini, berbicara tentang Yesus di depan publik berisiko mengalami kesusahan, hukuman, bahkan kematian.

Dengan merenungkan pengurbanan Yesus bagi kita, pengorbanan apa pun yang kita lakukan untuk membawa sesama kepada-Nya akan sepadan dengan hasilnya --DCE


Beri aku hasrat akan jiwa-jiwa, ya Tuhan,
Belas kasih untuk menyelamatkan yang terhilang;
Biarpun sulit dan penuh pengorbanan
Kiranya kasih-Mu menjamah mereka. --Tovey

KETIKA KITA MEMBUKA HATI KEPADA TUHAN
DIA MEMBUKA MATA KITA TERHADAP ORANG-ORANG

YANG TERHILANG

was taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2007/02/05/#SABDAweb

doa: tolonglah kami untuk 'diberi hati' untuk mengerjakan bagian kami yg terbaik dariMu setiap saat dalam waktu2 ini...