Wednesday, January 31, 2007

hari ini

Rabu, 31 Januari 2007
Lukas 10:17-24
Judul: Sukacita sejati Sukacita bisa muncul karena berbagai sebab. Ada sukacita yang muncul sebab berhasil menyelesaikan dengan baik tugas yang telah dipercayakan. Ada juga yang menyertai sukacita itu dengan rasa bangga yang tidak tepat.
Para murid telah menyelesaikan misi yang dipercayakan pada mereka (17). Mereka mengalami euforia (perasaan gembira yang berlebihan) karena menurut mereka hasilnya luar biasa! Mereka dapat mengalahkan setan-setan! Padahal sebelumnya murid-murid lain gagal melakukannya (Luk. 9:37-43a). Itu artinya mereka memiliki otoritas yang lebih besar di dalam nama Tuhan Yesus, dan mereka bersukacita karena hal itu! Tetapi menurut Yesus, sukacita mereka tidak pada tempatnya. Melayani Allah memang merupakan hak istimewa dan memiliki kuasa Allah untuk mengusir Iblis dapat dianggap sebagai keajaiban. Yesus memang melihat bahwa apa yang telah mereka lakukan merupakan kekalahan Iblis (18) dan digenapinya janji mesianis, yakni kemenangan Kristus atas kuasa kegelapan. Namun alasan terbesar untuk bersukacita seharusnya adalah karena mereka memiliki hidup yang kekal! Yang utama bukan bersukacita karena telah mampu mengusir Iblis, tetapi lebih baik bersukacita karena telah memiliki keselamatan. Sebab sukacita orang percaya bukan terutama terletak pada kehancuran Iblis tetapi pada fakta bahwa orang percaya telah menjadi milik Allah dan nama mereka telah tercatat di surga (20).
Ini jugalah yang menjadi sukacita Yesus, yakni bahwa Allah menyatakan diri dan karya-Nya kepada para murid. Itu sebabnya para murid harus bersukacita karena banyak orang di masa silam yang ingin mengalami karya keselamatan Allah seperti yang telah dialami murid-murid namun mereka tidak memiliki kesempatan itu

Saturday, January 27, 2007

lebih jauh soal Yesaya 60:22 ... be practice ... all of you

"Heed The Call"

For God so loved the world
He gave His only Son
Whoever believes in Him
Has eternal life

Yet many still are lost
Many still unreach
Who will go? Who will send?
How will we reach them?

Unless a grain of wheat
Falls away and dies
It remains a single seed
Never multiplies

If only we would die
We can multiply
Give yourself to one life
And reach the world for Christ

Reff.:
The least will be athousand
The samllest mighty nations
A vision for the world
A heart for the individual

Let's heed the call
Let's kneel and pray
For that faithful man today

Take hold of His Word
Go to the world today
He's working out His Promises
Near and far away

The blessing of salvation
That's our proclamation
So let Christ be lifted up
Through you and me today

...

Friday, January 19, 2007

...belajar dengar FirTU en lakukan...

Sabtu, 20 Januari 2007

Lukas 8:16-21
Seorang guru pasti berkeinginan membagi ilmu yang dimilikinya dengan murid yang dia ajar. Untuk itu ia akan mencari cara terbaik agar muridnya dapat memahami pelajaran yang dia berikan. Begitu pula dengan Yesus, Sang Guru. Banyak cara yang Dia pakai untuk menolong para murid memahami kebenaran. Misalnya dengan memakai perumpamaan. Perumpamaan, dalam pengajaran-Nya, tidak dimaksudkan-Nya untuk menjadi tudung yang menyembunyikan terang. Sebaliknya, justru seperti tiang tempat menggantungkan lampu supaya terangnya bisa bersinar semakin luas. (16)

Walaupun bagi sebagian orang, pengajaran Yesus sulit dimengerti tetapi itu bukan karena perumpamaan yang dipakai Yesus, melainkan karena mereka tidak memiliki pengertian. Memang ada kemungkinan bahwa kebenaran itu suatu saat tersembunyi dan orang tidak dapat memahaminya, namun akan ada masanya kebenaran itu disingkapkan (17). Dalam menantikan masa itu, hendaknya orang belajar memahami kebenaran sebaik-baiknya dan hidup di atas kebenaran itu. Karena jika orang menerima dan melakukan kebenaran maka Tuhan akan menyatakan kebenaran lebih banyak lagi kepada orang tersebut. Ia menghargai orang yang demikian karena dianggap memiliki pertalian dengan-Nya (21). Sebaliknya, jika orang tidak mendasarkan hidup di atas kebenaran maka orang itu akan kehilangan kepekaan dan kebutuhan akan kebenaran. Bila demikian yang terjadi maka iman pun tidak akan bertumbuh!

Tentu gambaran pertamalah yang kita inginkan terjadi dalam kehidupan kita, yakni menjadi orang yang dihargai Tuhan. Namun untuk menjadi seperti itu, tidak cukup hanya dengan melakukan aktivitas rohani. Kita perlu memiliki hati yang reseptif, yaitu hati yang terbuka dan tanggap.

Camkan: Apa gunanya berdoa dan membaca firman Tuhan berjam-jam kalau tidak memiliki hati terbuka terhadap suara Tuhan? Mendengar firman saja tidak cukup! Perlu ketaatan!

penerapan pribadi:
mendengar dengan hati terbuka satu dua hari ini pada 'suaraNya' soal kegiatan saya di PSU selain focus utama belajar [masa depan isteri dan anak; kuliah sambil kerja yg dukung percepatan pengetahuan soal applikasi riset tanpa mengorbankan hal2 utama dan dasar2]...

Sunday, January 14, 2007

tantangan nyata Mengasihi sesuai FirTu

Minggu, 14 Januari 2007
Lukas 6:27-42
Judul: Mengasihi musuh Sekali lagi mereka yang "mendengarkan" Yesus (27; bdk. 6:18, 45-49) dikejutkan dan ditantang untuk menganut pola hidup dan peri laku yang mencerminkan nilai-nilai kerajaan Allah yang ditandai oleh sikap radikal, "mengasihi musuh" (27a; 32; 35a). Sikap ini diwujudkan dalam dua tindakan konkret. Yang pertama ialah "berbuat baik" -- bukan secara pasif melainkan secara proaktif di tengah serangan dan permusuhan terhadap kita: berbuat baik, memberkati, mendoakan, memberikan pipi yang lain, bahkan jubah dengan bajunya juga (27b-29; 33; 35b).
Yang kedua ialah "memberi" atau "meminjamkan" dengan ikhlas "tanpa mengharapkan balasan" (30; 34; 35c; 38). Inilah implikasi dari ucapan bahagia: pengikut Yesus dipanggil untuk membentuk suatu umat, warga Kerajaan Allah, yang ciri utamanya ialah tidak memperlakukan orang lain (khususnya mereka yang "membenci, mengucilkan, mencela dan menjelekkan" kita) sebagai musuh. Yang Yesus minta dari murid-murid-Nya ialah menerima nilai-nilai yang memutarbalikkan tata cara dunia sosial mereka.
Pola hidup dan perilaku ini haruslah berakar pada karakter Allah sebagai Bapa yang murah hati (36), termasuk kepada mereka "yang tidak tahu berterima kasih dan jahat" (35). Orang-orang semacam ini lazim kita pandang sebagai "musuh." Kemurahan hati Allah itu harus kita terjemahkan pula dalam tindakan tidak menghakimi tetapi mengampuni, tidak menonjolkan kesalehan sendiri dengan menekankan kekurangan orang lain (37; 41-42). Kemurahan hati Allah yang berlimpah diibaratkan seperti pedagang di pasar yang tidak pelit, melainkan mengisi takaran atau timbangannya penuh-penuh, bahkan meluap ke luar (38). Demikianlah cara Allah Bapa memperlakukan anak-anak-Nya, yang dalam peri laku mereka terhadap sesama meneladani karakter-Nya.
Renungkan: Sama seperti Allah dengan murah hati meng-anugerahkan pengampunan dan penebusan dari dosa di dalam Kristus, demikianlah hendaknya anak-anak-Nya.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/01/14/

Friday, January 12, 2007

yang berbahagia...dalam Kasih-NYA

Sabtu, 13 Januari 2007

Lukas 6:20-26
Judul: Siapakah yang berbahagia? Hanya di dalam Injil Lukas kita jumpai ucapan bahagia bagi yang "miskin" dan langsung diikuti peringatan tajam bagi yang "kaya." Hidup si miskin, yang diwarnai kelaparan, kesedihan, dan dicela "karena Kristus," kelak diwarnai kepuasan dan tawa (20-23). Sebaliknya, hidup si kaya, yang ditandai dengan kekenyangan, tawa ria dan pujian, kelak ditandai dengan kelaparan dan tangis (24-26).

Melalui ajaran ini Yesus membuat pendengarnya tersentak dari kebiasaan cara berpikir dan pola hidup duniawi, yang berbeda drastis dengan prinsip dan pola hidup Kerajaan Allah. Dalam pola hidup dunia, yang kaya bahagia dan yang miskin tersingkir. Tidak demikian halnya di dalam Kerajaan Allah. Di sini Injil diberitakan kepada "orang miskin" (4:18-19). Kaya-miskin di dalam Injil Lukas bukan sekadar ukuran ekonomi. Termasuk golongan "miskin" adalah orang-orang yang tersingkir dari masyarakat, baik karena alasan ekonomi maupun bukan: yang cacat tubuh atau jiwa, penderita kusta, pemungut cukai, pelacur. Ucapan bahagia berisi kata-kata pengharapan dan penghiburan bagi mereka, dan bagi siapa saja yang menerima pelayanan Yesus. Mereka semua dirangkul dan dipulihkan, jasmani dan rohani.

Kepada yang kaya Yesus pada dasarnya mengingatkan akan bahaya kekayaan, bahwa ia senantiasa menghadirkan godaan untuk menemukan pegangan hidup dan rasa aman di luar Tuhan (bdk. 8:14; 12:13-21). Kekayaan juga cenderung menimbulkan ketidakpedulian terhadap kebutuhan sesama (bdk. 16:19-31; 18:22). Yesus tidak mengecam kekayaan; Ia sendiri menerima dukungan bagi pelayanan-Nya dari murid-murid yang kaya (bdk. 8:1-3; 23:50-56a). Kekayaan itu sendiri tidak jahat, tetapi harus diwaspadai karena ia dapat menguasai kita jika ia tidak dikuasai dan dikendalikan. Inilah inti peringatan Yesus.

Renungkan: Rencana penebusan Allah di dalam Kristus menjangkau semua lapisan masyarakat, miskin maupun kaya.

'kuasa' : doa, sehati dengan DIA

Jumat, 12 Januari 2007

Lukas 6:12-19
Judul: Kuasa untuk pelayanan Doa adalah salah satu tema utama Injil Lukas. Yesus naik ke "bukit" untuk berdoa kepada Allah semalam suntuk (12), sebagai persiapan untuk memilih kedua belas rasul (13-16) dan untuk pelayanan selanjutnya, baik dalam pengajaran maupun penyembuhan orang sakit (18-19).

Kedua belas rasul dipilih dari antara sekian banyak murid yang mengikut Yesus (13). Mereka disebut "rasul," sebutan yang diberikan kepada orang yang diserahi tanggung jawab sebagai utusan dan saksi (bdk. Kis. 1:21-25). Mereka dipersiapkan untuk melanjutkan pekerjaan Yesus di dunia dan menjadi pemimpin umat Allah yang baru, menggantikan kepemimpinan para pemuka agama Yahudi yang tidak mengakui karya penebusan Allah di dalam Yesus. Pemilihan para rasul dilakukan di atas "bukit," suatu lokasi yang di dalam literatur Yahudi sering dikaitkan dengan penampakan Allah dan pemberian wahyu Ilahi. Itu berarti, mereka dipilih atas kehendak Allah, yang Ia nyatakan kepada Yesus melalui doa (bdk. 3:21-22; 5:16-17). Sesudah memilih kedua belas rasul, Yesus turun dari bukit bersama mereka (17a). Melalui doa, Yesus diurapi dengan kuasa untuk pelayanan-Nya, baik dalam mengajar maupun menyembuhkan orang-orang dari segala lapisan masyarakat (17b-19). Kata yang sama, "menyembuhkan," untuk penyakit fisik (18a) dipakai juga untuk pembebasan dari gangguan roh jahat (18b).

Bagi Lukas, kesehatan bukan hanya meliputi unsur fisik atau medis saja, tetapi juga unsur sosial dan spiritual. Orang yang sakit fisik atau dirasuk roh jahat bisa mendapat penderitaan lain, yaitu disingkirkan masyarakat. Kesembuhan mereka berarti pulihnya kembali status dan fungsi sosial mereka dalam keluarga dan masyarakat. Maka di dalam kuat kuasa Roh Allah, Yesus mematahkan kuasa iblis, musuh utama dari karya penebusan dan pemulihan Allah, seperti ditandaskan Lukas di ay. 19: "dan semua orang itu disembuhkan-Nya."

Renungkan: Pelayanan yang disertai kuat kuasa Allah tidak terlepas dari ketekunan dalam doa.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/01/12/

Terima Kasih Allah karena hak istimewa dapat berdoa. Amin

Monday, January 08, 2007

...mengenal diri dan world view +.

Senin, 8 Januari 2007

Lukas 5:1-11
Judul: Mengenal Yesus, mengenal diri "Bagaimana mungkin seorang tukang kayu mengajari seorang nelayan tentang cara menangkap ikan?" Mungkin begitulah gambaran pikiran Petrus saat Yesus menyuruh dia menangkap ikan. Sementara ia dan teman-temannya telah sepanjang malam bekerja keras tanpa hasil (5).

Petrus, mewakili kebanyakan orang, keliru memahami Yesus. Yesus pada awal-awal pelayanan menyatakan kemesiasan-Nya bukan hanya dengan pernyataan diri (4:16-21), melainkan juga dengan pengajaran dan karya-karya-Nya. Sebelum peristiwa dalam perikop ini, beberapa pelayanan Yesus sudah menyatakan bahwa Ia lebih daripada manusia biasa: roh jahat diusir (4:31-37) dan orang sakit disembuhkan (4:38-41). Yesus juga bukan sekadar guru agung atau pembuat mukjizat yang populer. Yesus adalah Tuhan atas alam ini! Lalu sikap sok tahu Petrus berubah menjadi rasa malu dan gentar ketika melihat Yesus berdaulat atas ikan di laut Genesaret (8). Berhadapan dengan Yesus dan mengalami kuasa-Nya membuat Petrus menyadari keberadaan dirinya yang berdosa. Suatu sikap yang Yesus inginkan ada dalam diri orang yang akan Dia panggil menjadi hamba-Nya. Maka kisah penangkapan ikan berlanjut menjadi kisah `penangkapan\' Petrus oleh Yesus. Sejak saat itu, Petrus akan menebarkan jalanya di laut yang berbeda, yakni lautan manusia yang membutuhkan Kristus.

Betapa luar biasa anugerah Allah yang mengubah orang berdosa menjadi hamba-Nya. Kita pun dapat mengalami anugerah itu dalam hidup kita, bila kita menyadari keberdosaan kita dan betapa kita memerlukan pertolongan Kristus. Hanya Yesus yang sanggup mentransformasi hidup kita, dari kepapaan rohani yang terbungkus kesombongan dan kepicikan, menjadi pengikut yang dapat dipakai-Nya memenangkan jiwa sesama kita.

Syukurku: Terima kasih Tuhan karena Engkau lebih mengenal aku daripada aku mengenal diriku sendiri. Ini aku, bentuklah aku seturut maksud-Mu yang mulia.

taken from: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/01/08/

Saturday, January 06, 2007

kabar baik dari Lukas

Sabtu, 6 Januari 2007

Lukas 4:14-30
Judul: Mesias dan kaum tersingkir Perikop ini memuat tema utama Injil Lukas, yakni misi pelayanan Yesus untuk "menyampaikan kabar baik kepada orang miskin" sebagai penggenapan dari Yes. 61:1-2 (18-21). Tema utama ini melandasi seluruh tindakan dan ajaran Yesus yang Lukas tuturkan di dalam Injilnya.

Yesus adalah Mesias, yang diurapi dan diutus Allah untuk melaksanakan misi penyelamatan Allah. Dengan tegas Ia memproklamirkan diri ketika menyatakan bahwa, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Ia telah mengutus Aku." Tugas "menyampaikan kabar baik" terdiri atas empat kegiatan (18-19), yang sekaligus menjelaskan siapa yang dimaksud dengan "orang miskin", yakni mereka yang "tertawan, buta, dan tertindas". Dalam masyarakat zaman itu, yang termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang tersisih, terkucil, tanpa status sosial, dan tanpa kuasa.

Yesus memberitakan "pembebasan" kepada yang tertawan dan tertindas, (19 a, c). Dalam konteks Injil Lukas pembebasan selain arti rohani (pengampunan dari dosa), juga bermakna sosial. Ia menghadirkan "tahun rahmat Tuhan" (19 d). Ungkapan ini sering dipakai untuk tahun Yobel (Im. 25:10), yakni tahun pembebasan bagi kaum miskin yang ditindas oleh sebab utang-utang mereka. Kepada yang buta, Yesus membawa penyembuhan (19 b), baik dari kebutaan fisik (bdk. Luk. 18:35-43) maupun kebutaan rohani. Mereka yang buta rohani akan melihat "terang keselamatan dari Tuhan" di dalam Yesus (Luk. 1:78-79; 2:29-32; 3:6). Yesus membawa kabar baik Kerajaan Allah, tidak terbatas untuk orang Yahudi saja, tetapi juga untuk orang bukan Yahudi, seperti yang telah dirintis oleh nabi Elia dan Elisa (25-27).

Hidup dan tindakan Yesus adalah kepedulian dan campur tangan Allah menyelesaikan masalah-masalah manusia.

Renungkan: Yesus, Sang Juruselamat, menganugerahkan pengampunan dosa dan kesembuhan bagi semua orang.

taken from:
http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2007/01/06/